5 Cara Baca Label Makanan yang Benar untuk Anak, Ortu Wajib Catat

2 hours ago 1

CNN Indonesia

Rabu, 28 Jan 2026 12:45 WIB

Kesalahan membaca label makanan bisa menjadi faktor tersembunyi yang berkontribusi pada masalah gizi anak. Ilustrasi. Kesalahan membaca label makanan bisa menjadi faktor tersembunyi yang berkontribusi pada masalah gizi anak. (iStockphoto)
Daftar Isi

Jakarta, CNN Indonesia --

Di tengah mudahnya akses makanan dan minuman kemasan untuk anak, label pangan seharusnya menjadi panduan utama orang tua dalam memilih produk yang aman dan bergizi.

Namun, tampilan kemasan yang menarik dan klaim yang terdengar meyakinkan kerap membuat orang tua lengah. Kesalahan membaca label makanan pun bisa menjadi faktor tersembunyi yang berkontribusi pada masalah gizi anak, mulai dari kelebihan gula hingga kekurangan zat gizi penting.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dokter spesialis anak subspesialis nutrisi dan penyakit metabolik, Klara Yuliarti menegaskan bahwa membaca label pangan bukan perkara sepele, bahkan bagi tenaga kesehatan.

"Kita perlu mengecek label nutrisi untuk mampu memilih makanan yang bergizi seimbang buat anak dan mengontrol asupan gula serta garam," kata Klara dalam seminar media Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Selasa (27/1).

Lalu, apa saja yang perlu diperhatikan orang tua saat membaca label makanan anak?

1. Tanggal kedaluwarsa

Salah satu kesalahan paling dasar yang sering terjadi adalah menganggap semua tanggal pada kemasan memiliki makna yang sama. Padahal, Klara menjelaskan ada perbedaan penting antara expired date dan best before.

"Expired date artinya setelah lewat tanggal ini tidak boleh dipakai lagi karena bisa berbahaya. Bisa mengandung cemaran mikroorganisme atau bahan berbahaya tertentu," jelasnya.

Sementara itu, best before atau 'baik digunakan sebelum' masih memberi toleransi tertentu terhadap mutu produk. Namun, Klara menegaskan aturan ini tidak berlaku untuk semua jenis pangan, terutama produk untuk anak.

2. Daftar komposisi

Reading a nutrition label on food packagingIlustrasi. Cara membaca label makanan untuk anak. (iStockphoto/BrianAJackson)

Kesalahan berikutnya kerap terjadi pada pembacaan daftar komposisi bahan. Banyak orang tua terpaku pada klaim di bagian depan kemasan, tanpa mencermati daftar bahan yang justru mencerminkan isi produk sebenarnya.

"Aturannya, yang ditaruh paling awal itu yang paling banyak," kata Klara.

Artinya, jika gula atau pemanis berada di urutan awal daftar komposisi, kandungannya kemungkinan besar cukup tinggi.

"Gula ini memang banyak menimbulkan kebingungan kalau untuk awam karena belum ada ketentuan, masih bervariasi istilahnya. Ada yang menyebut gula itu sebagai gula, ada juga yang mengatakan karbohidrat itu gula," jelasnya.

Perbedaan istilah sering membuat orang tua tidak sadar anak sudah mengonsumsi gula tambahan dalam jumlah besar, yang dalam jangka panjang dapat meningkatkan risiko obesitas.

3. Informasi nilai gizi

Kesalahan berikutnya yang sering terjadi adalah tidak memahami takaran saji pada Informasi Nilai Gizi (ING). Banyak orang tua mengira angka gizi yang tercantum berlaku untuk satu kemasan, padahal satu kemasan bisa berisi lebih dari satu porsi.

Akibatnya, anak mengonsumsi gula, lemak, atau kalori jauh lebih tinggi dari yang disadari, yang dalam jangka panjang meningkatkan risiko obesitas.

4. Klaim zat gizi

Label dengan klaim seperti sumber kalsium, tinggi vitamin, atau bebas gluten sering menjadi daya tarik utama. Padahal, setiap klaim memiliki definisi dan syarat ketat yang diatur oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

Klara mengatakan bahwa klaim sumber kalsium dan tinggi tidak memiliki arti yang sama. Produk dengan klaim tinggi kalsium mengandung kalsium lebih banyak dibandingkan produk yang hanya mencantumkan klaim sumber kalsium.

Untuk produk anak di bawah usia tiga tahun, karena masuk kategori populasi khusus, aturan klaim sangat dibatasi. Produk dalam kategori ini bahkan dilarang mencantumkan klaim kesehatan tertentu.

5. Kategori pangan olahan

Terakhir, orang tua perlu memahami kategori pangan olahan. Tidak semua produk kemasan ditujukan untuk konsumsi bebas. Ada pangan umum, pangan untuk kebutuhan gizi khusus, hingga pangan keperluan medis khusus yang hanya boleh digunakan dengan pengawasan dokter.

Kesalahan memahami kategori pangan bisa membuat orang tua memberikan produk yang tidak sesuai dengan usia atau kondisi anak.

Dengan memahami tanggal kedaluwarsa, daftar komposisi, informasi nilai gizi, klaim zat gizi, dan kategori pangan, orang tua dapat lebih kritis dalam memilih makanan kemasan. Label pangan bukan sekadar formalitas, melainkan alat penting untuk melindungi kesehatan dan tumbuh kembang anak.

(nga/asr)

Read Entire Article
| | | |