Airlangga Klaim B50 Bakal Menghemat Devisa hingga Rp177 T

14 hours ago 12

Jakarta, CNN Indonesia --

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan implementasi program Biodiesel 50 persen (B50) bakal menghemat devisa negara hingga Rp177 triliun atau setara US$9,79 miliar (kurs Rp18.060) karena Indonesia tidak perlu lagi melakukan impor solar.

Menurut Airlangga, program yang baru saja diluncurkan oleh Presiden Prabowo Subianto ini membuktikan bahwa Indonesia mampu mandiri di sektor energi dengan mengoptimalkan kelapa sawit.

"Dengan B50, solar itu kita tidak impor lagi, dan kita menghemat devisa Rp177 triliun, dan berkontribusi terhadap net zero emission 44 juta ton CO2 setara," ujar Airlangga dalam acara Kadin Diplomatic Economic Breakfast di kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta Pusat, Jumat (10/7).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Langkah penghematan devisa lewat B50 ini dinilai sangat krusial di tengah fluktuasi nilai tukar Rupiah yang sempat menyentuh level Rp18 ribu per dolar AS. Airlangga pun mengakaui neraca perdagangan bulanan Indonesia sempat tekor akibat lonjakan (spike) harga impor BBM dunia.

Namun, ia menegaskan fundamental ekonomi RI masih solid dengan pertumbuhan 5,05 persen dan inflasi terjaga di kisaran 2,5 persen. Kehadiran B50 pun menjadi strategi pemerintah agar APBN tidak jebol akibat subsidi energi.

"Kemarin satu bulan memang negatif karena memang dari segi impor BBM itu memang harganya spike, harganya naik. Inflasi masih dalam range 2,5 plus minus 1 persen dan ini terus kita jaga. Jadi relatif semua menilai perekonomian kita relatif aman dan solid," terangnya.

[Gambas:Youtube]

Airlangga optimistis kehadiran B50 membuat harga BBM bersubsidi, seperti Pertalite dan Biodiesel tetap aman terkendali. Pemerintah bahkan telah menyiapkan skenario jika krisis energi global berlangsung hingga 10 bulan ke depan, dengan asumsi rata-rata harga minyak mentah (ICP) di level US$100 per barel.

Kendati demikian, Airlangga mengingatkan ruang fiskal dari B50 harus dibarengi ketegasan penyaluran BBM subsidi. Ia menegaskan para pengusaha kaya tidak boleh lagi mengonsumsi bensin bersubsidi.

"Tetapi jika mobilnya untuk Pak Anin, kan? Di mana beliau mengendarai Range Rover atau Maybach, maka beliau tidak berhak menggunakan Pertalite. Jadi beliau harus membayar dengan harga pasar," kelakar Airlangga.

Ketahanan energi dari B50 ini diharapkan mampu memitigasi dampak ketidakpastian geopolitik global seperti konflik di Timur Tengah.

"Indonesia telah memulai pengembangan biodiesel ini selama delapan tahun, dan B50 adalah yang pertama di dunia. Tidak ada negara lain yang memperkenalkan program B50," pungkasnya.

(lau/fln)

Add as a preferred
source on Google
Read Entire Article
| | | |