Amran Sebut Geopolitik Memanas Berdampak ke Petani Sawit

7 hours ago 5

Makassar, CNN Indonesia --

Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menyebut kondisi geopolitik global yang memanas justru membawa dampak positif bagi petani sawit dan komoditas perkebunan Indonesia.

Salah satunya terlihat dari lonjakan harga crude palm oil (CPO) yang mendorong peningkatan pendapatan petani.

"Konflik, geopolitik memanas itu berkah buat Indonesia untuk pangan. Petani pesta. Kenapa? Harga CPO naik. Harga kakao bagus, harga kelapa naik. Itu yang dirasakan di lapangan," kata Amran di Gudang Bulog Panaikang, Makassar, Minggu (5/4).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ia menggambarkan kenaikan harga komoditas tersebut dirasakan langsung oleh petani di berbagai daerah. Bahkan, menurutnya, terdapat fenomena di mana petani menikmati peningkatan kesejahteraan akibat lonjakan harga hasil perkebunan.

"Kelapa naik, dulunya Rp600 jadi Rp6.000. Itu 1.000 persen naiknya di Maluku Utara. Itu kebahagiaan petani. Saya ke lapangan, petani bilang 'Pak Menteri enak ya kalau krisis'," ujarnya.

Bos Badan Pangan Nasional (Bapanas) juga menyinggung adanya peningkatan kemampuan ekonomi petani yang terlihat dari aktivitas sosial keagamaan. Amran menyebut jumlah petani yang mampu berangkat ke Tanah Suci meningkat hingga dua kali lipat.

Hal ini merujuk pada semakin banyak petani yang memiliki kemampuan finansial untuk menunaikan ibadah haji atau umrah, yang umumnya membutuhkan biaya besar. Hal ini dianggap sebagai indikator meningkatnya kesejahteraan.

Amran menjelaskan kenaikan harga ini membuat petani semakin aktif meningkatkan produksi. Perawatan tanaman ditingkatkan karena harga jual sedang tinggi, sehingga memberi ruang keuntungan yang lebih besar.

"Ini tanam sawit, naik produksi. Pupuknya diperbaiki, dijaga. (Para pekebun) lupa pulang dari kebun karena harga lagi bagus. Petani diberi ruang untung untuk berproduksi," kata Amran.

Di sisi lain, ia juga menyoroti bahwa situasi geopolitik tidak hanya berdampak pada harga komoditas, tetapi juga mempercepat kebijakan hilirisasi energi di dalam negeri, termasuk pengembangan bahan bakar berbasis etanol.

"Berkah kedua, hilirisasi dipercepat, etanol dipercepat. Kalau ada tekanan, ada hikmah di balik itu," ujarnya.

Amran menambahkan saat ini Indonesia juga telah mulai memproduksi kendaraan berbahan bakar etanol yang bahkan sudah diekspor ke Brasil. Menurutnya, bahan baku etanol berasal dari komoditas dalam negeri seperti ubi dan jagung yang dapat langsung diolah untuk kebutuhan energi.

Secara sederhana, kondisi geopolitik yang memanas, seperti konflik di kawasan penghasil energi dunia, membuat harga minyak dan energi global naik. Dampaknya, harga komoditas pengganti atau terkait energi, seperti CPO untuk biodiesel, ikut terdongkrak. Hal ini kemudian meningkatkan permintaan dan harga jual komoditas perkebunan Indonesia di pasar global.

Kenaikan harga tersebut pada akhirnya dirasakan langsung oleh petani karena hasil panen mereka dihargai lebih tinggi. Kondisi ini yang cenderung membuat sebagian petani mengalami peningkatan pendapatan di tengah tekanan global.

(del/mik)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
| | | |