CNN Indonesia
Selasa, 06 Jan 2026 11:30 WIB
Ilustrasi. Super flu masih termasuk influenza musiman. Namun, mutasi yang terjadi membuat karakter virus ini menjadi lebih agresif dan gejala lebih berat. (iStockphoto/wichayada suwanachun)
Jakarta, CNN Indonesia --
Penyebaran varian influenza A (H3N2) subclade K yang dijuluki super flu memunculkan pertanyaan di masyarakat, apa sebenarnya perbedaan super flu dengan flu musiman yang selama ini kerap dianggap penyakit ringan?
Dokter Spesialis Paru Agus Dwi Susanto menjelaskan subclade K masih termasuk influenza musiman. Namun, mutasi yang terjadi membuat karakter virus ini menjadi lebih agresif dibanding flu musiman pada umumnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Secara varian, super flu subclade K ini sebenarnya influenza musiman juga. Bukan virus baru. Tapi yang dikenal sebagai super flu itu memiliki sifat lebih agresif, mudah menular, gejala lebih berat, dan pada beberapa data menunjukkan respons yang lebih rendah terhadap vaksin," ujar Agus saat dihubungi CNNIndonesia.com, Jumat (2/1).
Perbedaan paling mencolok antara flu musiman dan subclade K terletak pada keparahan gejala. Jika flu musiman umumnya ditandai pilek, batuk ringan, dan demam rendah; subclade K dapat menimbulkan keluhan yang jauh lebih intens.
"Gejalanya bisa berupa demam tinggi sampai 39-41 derajat celcius, nyeri otot hebat, sakit kepala berat, kelelahan ekstrem, dan batuk kering," tambah Agus.
Ia menegaskan flu yang biasa dialami masyarakat umumnya terasa ringan dan masih memungkinkan penderitanya beraktivitas. Sebaliknya, pada subclade K, keluhan bisa membuat pasien benar-benar lemah dan tidak berdaya.
"Kalau disederhanakan, masyarakat sering kena flu yang ringan-ringan saja. Nah, yang ini gejalanya lebih berat dari yang selama ini dirasakan," ujarnya.
Selain tingkat keparahan, durasi sakit juga menjadi pembeda antara flu musiman dan subclade K. Flu musiman umumnya membaik dalam waktu singkat.
"Kalau flu yang tergolong wajar biasanya tiga sampai lima hari sudah membaik," jelasnya.
Namun, jika keluhan berlangsung lebih lama disertai gejala berat, kondisi tersebut patut dicurigai.
Risiko komplikasi lebih tinggi
"Dengan sifat yang lebih agresif ini, berdasarkan data yang ada, risikonya lebih tinggi terutama pada populasi rentan, seperti anak-anak dan orang tua," ujar Dokter Agus.
Komplikasi paling sering terjadi adalah pneumonia atau radang paru, ketika virus menyebar dari saluran napas atas ke paru-paru.
"Virus bisa turun ke paru dan menimbulkan peradangan. Itu bisa menjadi pneumonia virus, bahkan bisa terjadi superinfeksi dengan bakteri," jelasnya.
Jika pneumonia tidak tertangani dengan baik, kondisi dapat berkembang menjadi kegagalan pernapasan dan komplikasi serius lainnya.
Kapan harus ke dokter?
Dokter Agus menekankan pentingnya tidak menunda pemeriksaan medis jika gejala flu terasa tidak biasa. Ia mengingatkan masyarakat agar tidak menunggu patokan tiga sampai lima hari jika keluhan sudah berat sejak awal.
"Kalau rasanya lebih berat dari flu musiman biasa, sebaiknya jangan menunggu tiga sampai lima hari. Segera konsultasi," katanya.
Deteksi dan penanganan dini, menurutnya, sangat berperan dalam menurunkan risiko komplikasi.
Dalam penanganan di fasilitas kesehatan, influenza termasuk subclade K tetap dinilai berdasarkan kondisi klinis pasien. Tidak semua kasus membutuhkan rawat inap.
"Bisa ditangani rawat jalan, bisa juga rawat inap. Tergantung kriteria klinis, hasil pemeriksaan penunjang, dan kondisi pasien," jelas Dokter Agus.
Ia menegaskan, secara umum standar operasional prosedur (SOP) penanganan influenza tidak berubah. Namun, tingkat kewaspadaan perlu ditingkatkan mengingat karakter subclade K yang lebih agresif.
(nga/fef)


















































