Apa Itu Soft Saving? Kenali Tren Menabung yang Seimbang Ini

18 hours ago 4

CNN Indonesia

Senin, 20 Jul 2026 20:15 WIB

Anda bisa melakukan soft saving, cara menabung yang lebih seimbang antara menata masa depan dan mencari kebahagiaan di masa kini. Ilustrasi. Anda bisa melakukan soft saving, cara menabung yang lebih seimbang antara menata masa depan dan mencari kebahagiaan di masa kini. (iStockphoto/Milan Markovic)
Daftar Isi

Jakarta, CNN Indonesia --

Mengatur keuangan sering kali dianggap identik dengan pengorbanan, mulai dari memangkas pengeluaran hingga menunda berbagai keinginan demi masa depan.

Namun, pola pikir tersebut kini mulai bergeser seiring munculnya pendekatan soft saving. Lantas, apa itu soft saving?

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tren ini berkembang seiring meningkatnya kesadaran akan pentingnya menjaga kesehatan mental dan kualitas hidup, tanpa mengabaikan tujuan finansial jangka panjang.

Alih-alih menabung secara ekstrem, pendekatan ini mengajak Anda untuk tetap menikmati hasil kerja keras dengan cara lebih bijak.

Apa itu soft saving?

Mengutip dari laman I Will Teach You To Be Rich, soft saving adalah strategi mengelola keuangan yang mengutamakan keseimbangan antara menabung dan menikmati kehidupan. Pendekatan ini tidak menuntut seseorang mengorbankan kesenangan demi mengejar target keuangan.

Menerapkan soft saving artinya tetap menyisihkan sebagian pendapatannya untuk tabungan, dana darurat, ataupun investasi. Namun, Anda juga memberikan ruang dalam anggaran untuk menikmati aktivitas lain, seperti berlibur, menikmati hobi, atau mencicipi kuliner favorit.

Alokasi tabungan ini berada di kisaran 10-20 persen dari pendapatan, sedangkan sisanya digunakan untuk kebutuhan pokok dan pengeluaran yang memberikan kebahagiaan.

Prinsip utamanya bukan sekadar menghemat, melainkan membuat keputusan keuangan secara sadar sesuai dengan nilai dan prioritas pribadi. Anda bebas mengeluarkan uang untuk hal yang dianggap penting, tetapi tetap menghindari pemborosan pada pengeluaran tidak bermanfaat.

Manfaat soft saving dan cara menerapkannya

Kenaikan biaya hidup hingga ketidakpastian ekonomi membuat sebagian orang merasa strategi menabung secara ekstrem belum tentu menjamin tercapainya tujuan finansial dalam waktu singkat.

Adapun pola hidup yang terlalu menekan diri juga berisiko memicu stres, kelelahan mental, hingga perilaku belanja berlebihan sebagai pelampiasan setelah sekian lama berhemat. Oleh karena itu, pendekatan yang lebih fleksibel dinilai lebih mudah dijalankan secara konsisten dalam jangka panjang.

Apabila ingin mulai menerapkan soft saving, berikut beberapa langkah yang dapat dilakukan:

  • Bangun fondasi keuangan terlebih dahulu dengan memiliki dana darurat dan rutin menabung.
  • Gunakan pembagian anggaran, misalnya 50 persen untuk kebutuhan, 30 persen untuk keinginan, dan 20 persen untuk tabungan maupun investasi.
  • Tentukan dua atau tiga pengeluaran yang benar-benar meningkatkan kualitas hidup, lalu kurangi pengeluaran yang kurang penting.
  • Otomatiskan transfer ke rekening tabungan atau investasi setiap menerima gaji agar kebiasaan menabung tetap terjaga.
  • Tingkatkan pendapatan melalui pengembangan keterampilan, pekerjaan sampingan, atau negosiasi kenaikan gaji, sehingga ruang untuk menabung maupun menikmati hidup makin besar.
  • Evaluasi pengeluaran secara berkala untuk mengetahui aktivitas atau pembelian yang benar-benar memberikan kepuasan jangka panjang.

Dengan langkah tersebut, Anda tetap dapat menikmati hasil kerja kerasnya tanpa kehilangan arah dalam mencapai tujuan keuangan.

Kesalahan dalam soft saving

Meskipun menawarkan pendekatan yang lebih santai, soft saving tetap membutuhkan disiplin. Berikut beberapa kesalahan yang sebaiknya dihindari:

1. Menganggap soft saving sebagai alasan untuk tidak menabung

Konsep ini bukan berarti bebas menghabiskan seluruh pendapatan. Anda tetap perlu menyisihkan dana untuk tabungan, investasi, dan dana darurat secara konsisten.

2. Mengabaikan investasi jangka panjang

Menabung saja tidak selalu cukup. Mulailah berinvestasi sejak dini agar dana yang dimiliki dapat berkembang melalui efek pertumbuhan (compounding) dalam jangka panjang.

3. Menaikkan gaya hidup secara berlebihan

Saat penghasilan meningkat, hindari langsung menambah pengeluaran untuk berbagai kebutuhan konsumtif. Sebaiknya, alokasikan sebagian kenaikan pendapatan untuk meningkatkan jumlah tabungan atau investasi.

4. Tidak mengevaluasi kondisi keuangan

Meski lebih fleksibel, soft saving tetap membutuhkan evaluasi rutin. Tinjau kembali anggaran dan target keuangan secara berkala agar pengeluaran tetap sesuai kemampuan finansial.

Jadi, soft saving bukan berarti memilih antara menikmati hidup atau menabung, melainkan menemukan keseimbangan yang sehat di antara keduanya. Jangan sampai mengorbankan kebahagiaan masa kini demi menata masa depan.

(gas/rti)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
| | | |