Ada Jejak Rasis di Balik Mitos MSG Berbahaya

3 hours ago 4

CNN Indonesia

Jumat, 03 Apr 2026 02:00 WIB

Klaim MSG berbahaya tak terbukti ilmiah dan sebagian berakar dari stigma rasial terhadap budaya Asia. Ilustrasi. Ada sejarah panjang rasisme terkait mitos MSG berbahaya. (iStockphoto/panida wijitpanya)

Jakarta, CNN Indonesia --

Anggapan bahwa MSG berbahaya bagi kesehatan, bahkan disebut bisa merusak kecerdasan otak sudah lama beredar di masyarakat. Namun, di balik klaim tersebut, tersimpan fakta yang tak banyak diketahui, ternyata sebagian narasi negatif tentang MSG tidak hanya lemah secara ilmiah, tetapi juga berakar dari stigma dan bias rasial.

Salah satu contoh paling dikenal adalah munculnya istilah Chinese Restaurant Syndrome. Istilah ini bukan semata lahir dari temuan ilmiah, melainkan juga dari sejarah panjang stereotip terhadap budaya tertentu.

Melansir BBC, istilah tersebut pertama kali muncul dari surat yang dimuat dalam jurnal New England Journal of Medicine pada 1968. Penulisnya mengaku mengalami gejala seperti pusing, lemas, hingga mati rasa setelah makan di restoran China.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Namun, klaim tersebut tidak pernah dibuktikan secara ilmiah dan kini banyak dianggap sebagai hoaks.

Sayangnya, istilah itu telanjur populer dan digunakan selama puluhan tahun. Bahkan, kamus Merriam-Webster sempat mendefinisikannya sebagai kondisi yang dikaitkan dengan konsumsi makanan ber-MSG, khususnya makanan China, definisi yang kemudian menuai protes karena dinilai tidak akurat dan bias.

Secara ilmiah, MSG atau monosodium glutamate merupakan penyedap rasa yang aman dan telah lama digunakan secara global. MSG mengandung glutamat, zat yang juga ditemukan secara alami dalam berbagai makanan seperti tomat, keju, jamur, hingga air susu ibu.

Glutamat berperan dalam menciptakan rasa umami, salah satu dari lima rasa dasar.

Sejumlah penelitian modern menunjukkan bahwa MSG tidak terbukti menyebabkan gangguan kesehatan seperti yang selama ini dituduhkan. Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) bahkan telah lama menyatakan MSG aman dikonsumsi.

Tinjauan ilmiah dalam jurnal Food Science and Food Safety (2019) juga menyimpulkan bahwa klaim MSG menyebabkan berbagai penyakit tidak memiliki dasar bukti yang kuat.

Lalu, dari mana asal ketakutan terhadap MSG?

Mengutip kajian dari University of Toronto, persepsi negatif terhadap MSG tidak bisa dilepaskan dari konteks sosial dan sejarah, khususnya diskriminasi terhadap komunitas Asia di negara Barat. Pada masa lalu, imigran China kerap dipandang sebagai berbeda dan inferior. Makanan mereka pun sering dianggap aneh, tidak higienis, atau berbahaya.

Istilah Chinese Restaurant Syndrome kemudian memperkuat stereotip tersebut, seolah-olah makanan China dan penggunaan MSG lebih berisiko dibanding makanan lain. Padahal, MSG juga digunakan secara luas dalam berbagai produk makanan di seluruh dunia.

Fenomena ini dikenal sebagai othering, yaitu kecenderungan memandang kelompok lain sebagai asing atau tidak setara.

Selain itu, mitos bahwa MSG dapat merusak kecerdasan otak juga masih beredar. Faktanya, hingga kini tidak ada bukti ilmiah kuat yang mendukung klaim tersebut pada manusia dalam konsumsi normal. Sebaliknya, glutamat dalam MSG merupakan zat yang secara alami ada dalam tubuh dan berperan dalam berbagai fungsi biologis.

Meski sebagian orang mungkin merasa sensitif terhadap makanan tertentu, para ahli menegaskan bahwa tidak ada bukti konsisten yang menunjukkan MSG sebagai penyebab utama masalah kesehatan. Yang lebih penting adalah menjaga pola makan secara menyeluruh, bukan menghindari satu bahan berdasarkan mitos.

(anm/tis)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
| | | |