Bagaimana Kondisi Cuaca Puncak Mudik Lebaran 2026? Ini Prediksi BMKG

3 hours ago 2

Jakarta, CNN Indonesia --

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi sejumlah wilayah akan diguyur hujan lebat saat periode puncak arus mudik Lebaran 2026 yang diperkirakan terjadi pada 14-15 Maret mendatang.

"Periode 13 - 16 Maret 2026 cuaca di Indonesia umumnya didominasi oleh kondisi hujan ringan hingga hujan sedang," kata BMKG dalam Prospek Cuaca Mingguan Periode 10-16 Maret, dikutip Selasa (10/3).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Namun begitu, BMKG mewanti-wanti masyarakat mewaspadai peningkatan hujan dengan intensitas sedang-lebat yang terjadi di Sumatra Utara, Sumatra Barat, Riau, Kepulauan Riau, Jambi, Sumatra Selatan, Kepulauan Bangka Belitung, Bengkulu, Lampung, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur.

Selain itu, hujan intensitas sedang hingga lebat juga berpotensi terjadi di Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Kalimantan Selatan, Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Maluku Utara, Maluku, Papua Barat Daya, Papua Barat, Papua Tengah, Papua, dan Papua Selatan.

Pada periode tersebut, BMKG juga memperkirakan hujan lebat hingga sangat lebat di Papua Tengah serta angin kencang di Sulawesi Utara.

Puncak arus mudik Lebaran 2026 diprediksi akan terjadi dalam dua periode pada pertengahan Maret mendatang. Periode pertama puncak arus mudik diprakirakan terjadi ada 14-15 Maret, sementara periode kedua diprediksi terjadi pada 18-19 Maret.

Hal ini berdasarkan hasil survei yang dilaksanakan Kementerian Perhubungan serta dengan membandingkan realisasi jumlah pemudik di tahun 2025.

Faktor pemicu

Hujan lebat yang berpotensi terjadi pada periode mudik ini dipicu oleh sejumlah fenomena cuaca, salah satunya aktivitas Madden-Julian Oscillation (MJO) yang bergeser ke fase 6 dan 7 (Western Pacific) dalam sepekan ke depan, sehingga konsentrasi pembentukkan awan hujan lebih dominan terjadi di wilayah Indonesia bagian timur.

Selain itu, Gelombang Kelvin dan Gelombang Rossby Ekuatorial juga diprakirakan aktif di Sumatra dan Kalimantan bagian utara, sebagian Sulawesi, Maluku Utara, Maluku, Papua Barat Daya, Papua Barat, dan Papua. Keduanya disebut dapat mendukung peningkatan aktivitas konvektif serta potensi hujan di wilayah tersebut.

Bibit Siklon Tropis 95W juga diperkirakan masih persisten di Samudera Pasifik Utara Papua. Sistem ini memiliki kecepatan angin maksimum 20 knots, tekanan udara minimum 1006 hPa, dan pergerakan ke arah timur laut menjauhi wilayah Indonesia.

Bibit siklon ini menginduksi terbentuknya daerah konvergensi dan konfluensi di Samudra Pasifik Utara Pulau Halmahera hingga utara Papua Barat.

"Daerah konvergensi lain juga diprakirakan terbentuk di sebagian besar wilayah Indonesia, yang mana kondisi tersebut mampu meningkatkan potensi pertumbuhan awan hujan di sekitar bibit siklon dan di sepanjang daerah konvergensi atau konfluensi tersebut," terang BMKG.

BMKG juga memantau pembentukan daerah tekanan rendah di Australia bagian utara yang menginduksi terbentuknya daerah pertemuan angin yang memanjang dari NTB, NTT, Maluku bagian selatan, hingga Laut Arafuru.

Menurut BMKG, dengan kelembapan udara yang juga masih cukup tinggi, serta labilitas lokal kuat yang mendukung proses konvektif pada skala lokal di beberapa wilayah, BMKG menyebut kondisi ini berpotensi meningkatkan curah hujan secara signifikan di sebagian wilayah Indonesia.

(lom/dmi)

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
| | | |