Bukan Lagi Pesta, Gen Z Kini Cari 'High' di Jogging Track

2 hours ago 4

Angela Merici Keraf | CNN Indonesia

Sabtu, 27 Jun 2026 11:22 WIB

Ilustrasi gen Z. Ilustrasi. Bagi sebagian gen Z, bersenang-senang tidak lagi harus identik dengan ingar bingar pesta semalam suntuk. (iStockphoto/Alessandro Biascioli)

Jakarta, CNN Indonesia --

Ada masa ketika melepas penat sering dibayangkan lewat musik keras, lampu kelap-kelip, alkohol dan zat-zat adiktif lainnya, hingga pulang menjelang pagi. Nongkrong di klub, party, atau sekadar menghilang sebentar dari rutinitas menjadi salah satu cara untuk merasa hidup.

Belakangan, bayangan itu pelan-pelan bergeser. Ingar bingar pesta yang dulunya ramai kini berubah menjadi jogging santai, pilates, hingga tanding padel.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Bagi sebagian gen Z, bersenang-senang tidak lagi harus identik dengan ingar bingar pesta semalam suntuk. Rasa lega justru dicari lewat keringat, langkah kaki, dan tubuh yang terasa lebih ringan setelah bergerak.

Anton (25) termasuk yang memilih cara itu. Saat pekerjaan terasa berat atau pikiran sedang penuh, ia lebih memilih berlari, berenang, atau pergi ke gym, alih-alih mencari pelarian lewat party atau klub malam.

"Aku prefer olahraga daripada party, ke club, dan sejenisnya. Karena untukku pribadi, kegiatan olahraga lebih banyak positifnya," ujar Anton pada CNNIndonesia.com, beberapa waktu lalu.

Buat Anton, olahraga bukan sekadar mengikuti tren hidup sehat. Kegiatan fisik, menurutnya, memberi dampak yang lebih nyata dan tahan lama dibanding kesenangan yang hanya terasa sesaat.

Kendati demikian, bukan berarti Anton memandang negatif orang-orang yang doyan pergi berpesta. Sah-sah saja, namun buatnya, olahraga terasa lebih masuk akal.

Olahraga dilihat Anton sebagai investasi tubuh untuk hari tua. Selain membuat tubuh lebih sehat dan bugar, olahraga juga tidak selalu harus mahal.

Cerita yang mirip datang dari Kharina (24). Saat punya waktu luang atau ingin melepas penat, ia lebih sering memilih jogging, jalan kaki jauh, atau body workout ringan di rumah seperti aerobik dan mat pilates.

Buat Kharina, olahraga memberi ruang untuk mendengarkan diri sendiri. Ia tidak perlu memikirkan suasana ramai, tekanan sosial, atau biaya yang membengkak seperti saat pergi party.

"Party tuh rasanya lebih nguras energi. Kalau olahraga kan ya sudah, mikirin diri kita sendiri aja, dengar apa yang badan kita butuhin. Jadi enggak overwhelmed sama keramaian," ujarnya.

Pertimbangan biaya juga ikut berpengaruh. Dalam kondisi ekonomi yang serba diperhitungkan, Kharina merasa party sering kali tidak hanya menguras tenaga, tetapi juga dompet.

Di sekelilingnya, Kharina juga menangkap perubahan cara anak muda menghabiskan waktu. Jika dulu unggahan soal party atau klub malam lebih sering muncul, kini ia melihat lebih banyak teman-temannya dipenuhi dengan kegiatan berolahraga.

"Udah jarang banget lihat story orang party di club klab," ujar Kharina.

Saat anak muda mulai lebih selektif

Kecenderungan sebagian anak muda menjauh dari party, alkohol, atau zat adiktif tidak hanya muncul dari cerita Anton dan Kharina.

Laporan European School Survey Project on Alcohol and Other Drugs (ESPAD) mencatat, penggunaan alkohol, rokok, dan ganja pada remaja usia 15-16 tahun di Eropa menunjukkan tren penurunan jangka panjang. Alkohol memang masih mudah diakses, tetapi penggunaan secara umum dan binge drinking menurun dari waktu ke waktu.

Studi lain dari The British Journal of Sociology juga mencatat munculnya istilah generation sensible, yakni generasi muda yang lebih selektif terhadap alkohol dan cenderung memilih membatasi konsumsi atau tidak minum sama sekali.

Di Indonesia, data Badan Narkotika Nasional (BNN), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), dan Badan Pusat Statistik (BPS) sempat menunjukkan prevalensi penyalahgunaan narkotika turun dari 1,95 persen pada 2021 menjadi 1,73 persen pada 2023. Data terbaru 2025 menunjukkan angka itu kembali naik menjadi 2,11 persen, sehingga perubahan ini tetap perlu dibaca hati-hati.

Memang tidak bisa disimpulkan bahwa semua Gen Z meninggalkan alkohol, narkoba, atau party. Namun, hal ini jadi tanda bahwa sebagian anak muda mulai lebih selektif dalam memilih cara bersenang-senang, melepas stres, dan menghabiskan waktu luang.

Simak selengkapnya di halaman berikutnya..

Add as a preferred
source on Google

Read Entire Article
| | | |