CNN Indonesia
Sabtu, 07 Feb 2026 10:20 WIB
Ilustrasi. Mengenalkan puasa pada anak bukan sekadar melatih menahan lapar dan haus. (istockphoto/hxyume)
Jakarta, CNN Indonesia --
Mengenalkan puasa pada anak bukan sekadar melatih menahan lapar dan haus, tetapi juga proses pembelajaran yang melibatkan kesiapan fisik, emosi, serta cara orang tua membimbing. Karena itu, pendekatan yang digunakan tidak bisa disamakan dengan orang dewasa.
Psikolog anak Mira Amir mengatakan, langkah awal mengenalkan puasa justru dimulai dari perilaku orang tua sendiri. Anak belajar paling efektif dari apa yang ia lihat, bukan hanya dari apa yang ia dengar.
"Pertama, pastikan orang tuanya puasa juga," kata Mira saat dihubungi CNNIndonesia.com, Kamis (5/2).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurutnya, masih ada orang tua yang meminta anak berpuasa atau beribadah, tetapi tidak menjalankannya sendiri. Situasi ini membuat anak bingung dan sulit memahami makna puasa secara utuh.
Selain memberi contoh, Mira menekankan pentingnya menyesuaikan puasa dengan usia anak. Secara fisik, anak belum memiliki daya tahan yang sama dengan orang dewasa. Karena itu, anak tidak perlu langsung dituntut berpuasa penuh sejak dini.
Mengenalkan puasa bisa dimulai secara bertahap, misalnya dengan puasa setengah hari atau hanya menunda makan dan minum beberapa jam. Proses ini membantu anak mengenal puasa tanpa merasa terbebani.
Cara orang tua mengajak anak juga menjadi faktor penting. Mira mengingatkan agar puasa tidak diperkenalkan melalui ancaman, tekanan, atau ketakutan.
"Jangan sampai ketika kita mengajak anak berpuasa atau beribadah, caranya menekan, mengancam, atau menakut-nakuti," katanya.
Pendekatan seperti itu, menurut Mira, justru berisiko membuat anak mengaitkan puasa dengan rasa takut. Anak mungkin terlihat patuh, tetapi menyimpan tekanan emosional yang bisa berdampak di kemudian hari.
Ia menyarankan orang tua menggunakan pendekatan yang lebih empatik. Ketika anak mengeluh lelah atau mengantuk saat sahur, orang tua perlu mengakui kondisi tersebut dan memberi dukungan secara tenang.
Anak juga perlu diyakinkan bahwa ia boleh mencoba puasa sesuai kemampuannya. Dengan begitu, puasa menjadi pengalaman belajar yang positif, bukan kewajiban yang menakutkan.
Mira menegaskan, tujuan utama mengenalkan puasa pada anak adalah membangun pemahaman dan kebiasaan secara bertahap. Dengan pendampingan yang tepat, anak dapat memaknai puasa sebagai bagian dari ibadah yang dijalani dengan kesadaran, bukan paksaan.
(nga/asr)
















































