Cegah Potensi Banjir, BMKG Modifikasi Jakarta Hingga 22 Januari

3 hours ago 1

Jakarta, CNN Indonesia --

Operasi modifikasi cuaca (OMC) digelar di Jakarta dan sekitarnya pada 16-22 Januari untuk menekan potensi bencana hidrometeorologi dari curah hujan tinggi di wilayah tersebut.

Operasi yang berpusat di Landasan Udara (Lanud) Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur ini digelar oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah DKI Jakarta dan TNI Angkatan Udara.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Deputi Bidang Modifikasi Cuaca BMKG Tri Handoko Seto mengatakan OMC digelar untuk menekan potensi bencana hidrometeorologi dampak curah hujan tinggi yang rawan terjadi di musim hujan.

Dalam pelaksanaannya, satu unit pesawat jenis Casa 212 seri 200 dengan nomor registrasi A-2105 disiagakan bersama bahan semai berupa NaCl (garam) dan CaO (kapur).

"OMC di Jakarta ini merupakan bagian dari upaya penanganan siaga darurat bencana hidrometeorologi di wilayah Provinsi DKI Jakarta dan sekitarnya. Sebelumnya, OMC juga telah dilaksanakan pada 13-19 Januari 2026 dengan menyemai 21,4 ton NaCL dan 7,4 ton CaO pada total 31 sorti," kata Seto dalam keterangannya di Jakarta (21/1).

Seto menjelaskan penyemaian diprioritaskan untuk menjatuhkan awan-awan hujan yang masih berada di lautan dan bergerak menuju daratan Jabodetabek.

Kemudian, penyemaian juga dilakukan dengan tujuan menghambat pertumbuhan awan-awan baru sehingga tidak tumbuh secara optimal di daratan.

Direktur Operasi Modifikasi Cuaca BMKG Budi Harsoyo mengatakan pihaknya melakukan pemantauan radar cuaca dan pertimbangan matang untuk memastikan keberhasilan operasi sebelum melakukan penyemaian.

Menurutnya, saat ini beberapa fenomena atmosfer yang berpotensi memberikan dampak hujan di sebagian wilayah Jabodetabek tengah terjadi, seperti Madden-Julian Oscillation (MJO) fase 2, potensi gelombang frekuensi rendah, gelombang Kelvin, serta Outgoing Longwave Radiation (OLR) negatif.

Secara umum, kelembapan udara di wilayah Jabodetabek sendiri berada di kisaran 40-100 persen pada lapisan 925-500 hPa.

"Labilitas atmosfer menunjukkan kondisi massa udara labil lemah dan potensi konveksi sedang. Prioritas utama kami adalah mengurangi awan-awan hujan yang berkembang dan bergerak memasuki wilayah Jakarta sehingga masyarakat dapat melaksanakan aktivitas dengan nyaman dan tenang," terang Budi.

Lebih lanjut, Deputi Bidang Logistik dan Peralatan BNPB Andi Eviana mengapresiasi kesiagaan dan kolaborasi lintas sektor dalam mencegah dan menanggulangi bencana.

Tak hanya OMC, katanya, sinergi erat upaya penanganan bencana secara umum menjadi kunci utama keselamatan masyarakat luas.

"Penanganan bencana di Jakarta yang berjalan secara terintegrasi merupakan langkah baik yang perlu terus dijalankan dan dioptimalkan. Prakiraan dan pemantauan cuaca yang diberikan BMKG akan sangat diperlukan dalam menyusun strategi yang efisien dalam penanganan dan mitigasi bencana," kata Andi Eviana.

(lom/dmi)

Read Entire Article
| | | |