CNN Indonesia
Kamis, 22 Jan 2026 08:45 WIB
Ilustrasi. CKG menemukan, kelompok anak dan remaja memiliki indikasi ganggua mental yang lebih tinggi daripada dewasa dan lansia. (ANTARA FOTO/FAUZAN)
Jakarta, CNN Indonesia --
Cek kesehatan gratis (CKG) menemukan, kelompok anak dan remaja memiliki indikasi gangguan mental yang lebih tinggi dibandingkan kelompok dewasa dan lanjur usia (lansia). Depresi dan kecemasan jadi dua masalah mental yang mengintai.
Hingga kini, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Ri mencatat sebanyak 7.225.795 anak usia sekolah dan remaja telah mengikuti skrining kesehatan jiwa.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dari jumlah tersebut, sebanyak 363.326 orang atau sekitar 4,8 persen dilaporkan mengalami gejala depresi.
Sementara skrining gejala kecemasan telah dilakukan terhadap 7.274.436 anak dan remaja. Hasilnya, sebanyak 338.316 orang (4,4 persen) terdeteksi mengalami gejala gangguan cemas.
Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kementerian Kesehatan RI Imran Pambudi mengatakan, angka tersebut lima kali lebih besar dibandingkan temuan pada kelompok dewasa.
Sekitar 19 juta orang kelompok dewasa da lansia juga telah menjalani skrining kesehatan jiwa. Gejala depresi ditemukan pada 174.579 orang, sementara gejala kecemasan ditemukan pada 153.903 orang.
"Hasil dari skrining kesehatan jiwa dilanjutkan dengan konseling dan pemeriksaan penegakan diagnosis masalah mental. Bila terkonfirmasi gangguan jiwa, diberika edukasi, rujuk, atau tata laksana pemberian obat," ujar Imran, melansir detikhealth.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin sebelumnya memperkirakan, sedikitnya 28 juta warga Indonesia mengalami gangguan mental. Prevalensi gangguan mental secara global sendiri berada di kisaran 1 dari 8 hingga 1 dari 10 orang.
Jika dikalkulasikan dengan jumlah penduduk Indonesia yang mencapai sekitar 280 juta jiwa, setidaknya 28 juta orang mengalami masalah mental.
"Ini yang kita sebut the top of the iceberg [fenomena gunung es],"ujar Budi.
(asr)

















































