Dikira Kurang Zat Besi, Wanita Ini Alami 4 Penyakit Autoimun Sekaligus

2 hours ago 6

CNN Indonesia

Selasa, 18 Agu 2026 02:20 WIB

Cropped image of mature woman holding hand of sick sister in hospital bed. Female is consoling patient in ward. They are in hospital. Foto: istockphoto/HRAUN

Jakarta, CNN Indonesia --

Seorang wanita berusia 40 tahun di China mengalami sebuah kasus langka. Ia mengalami empat penyakit autoimun dalam satu waktu.

Temuan ini bermula dari keluhan defisiensi zat besi berat yang awalnya tampak tidak memiliki sumber perdarahan. Setelah ditelusuri lebih jauh, tim medis mendapati tubuh pasien justru kesulitan menyerap zat besi dari makanan karena gangguan autoimun pada lambung.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Mengutip dari Science Alert, kasus langka tersebut baru-baru ini dipublikasikan dalam jurnal Frontiers in Immunology pada 11 Agustus 2026.

Kasus ini menunjukkan betapa kompleksnya diagnosis penyakit autoimun. Penyakit autoimun terjadi ketika sistem kekebalan tubuh, yang seharusnya melindungi dari infeksi, justru menyerang sel-sel sehat tubuh sendiri.

Alami 4 penyakit autoimun sekaligus

Dalam kasus wanita tersebut, sebelumnya sistem imunnya sudah diketahui berperan dalam penyakit yang menyerang hati, saluran empedu, dan usus besar. Belakangan, dokter menemukan lambungnya juga menjadi sasaran serangan imun.

Sebelumnya, pasien diketahui mengidap kolitis ulseratif, yaitu peradangan pada lapisan usus besar yang dapat memicu nyeri, diare, dan perdarahan.

Namun saat pemeriksaan defisiensi zat besi dilakukan, penyakit itu justru sedang dalam kondisi remisi, sehingga perdarahan dari usus dianggap kecil kemungkinannya.

Ia juga memiliki autoimmune hepatitis, yakni kondisi ketika sistem imun menyerang hati. Berbeda dari hepatitis virus, penyakit ini tidak disebabkan oleh infeksi.

Selain itu, pasien menderita primary sclerosing cholangitis, penyakit yang menyebabkan jaringan parut dan penyempitan pada saluran empedu.

Pemeriksaan darah menunjukkan, kadar hemoglobin pasien turun menjadi 89 gram per liter. Karena kadar zat besinya rendah, dokter semula mencari kemungkinan adanya perdarahan tersembunyi.

Namun, pemeriksaan berulang pada tinja tidak menemukan darah, dan pemeriksaan ginekologis juga tidak menunjukkan sumber kehilangan darah dari area reproduksi.

Kecurigaan pun beralih ke masalah penyerapan nutrisi. Saat lambung pasien diperiksa, dokter menemukan lapisan dalam lambungnya menipis secara signifikan.

Pemeriksaan mikroskopis memperlihatkan sel-sel imun sedang memicu peradangan pada jaringan tersebut. Banyak sel yang biasanya menghasilkan asam lambung juga tampak rusak atau hilang.

Tes darah kemudian menunjukkan adanya antibodi yang menyerang sel parietal, yaitu sel penghasil asam di lambung. Gabungan temuan itu mengonfirmasi diagnosis keempat, yakni autoimmune gastritis.

Pentingnya asam lambung

Keberadaan asam lambung penting karena berperan membantu proses penyerapan zat besi di usus halus. Saat sel penghasil asam dirusak, zat besi dari makanan menjadi lebih sulit diserap, meski asupannya sebenarnya cukup.

Autoimmune gastritis dapat mengganggu penyerapan vitamin B12 yang dibutuhkan tubuh untuk membentuk sel darah dan sel saraf sehat. Namun pada pasien tersebut, kadar vitamin B12 masih normal.

Menurut para dokter, defisiensi zat besi bisa menjadi tanda peringatan yang muncul lebih awal dibanding kekurangan B12.

Meski menarik, laporan ini hanya melibatkan satu pasien. Artinya, belum bisa dipastikan seberapa umum kombinasi empat penyakit autoimun ini bisa terjadi.

Apakah satu penyakit memicu yang lain, atau apakah semua pasien dengan beberapa autoimun perlu menjalani pemeriksaan lambung? Pertanyaan ini masih belum terjawab.

Di sisi lain, sebagian riwayat medis pasien juga tidak tersedia, sehingga analisis penyebabnya belum sepenuhnya utuh.

Terhadap pasien, dokter pun memberikan suplemen zat besi dan berencana memantau kadar vitamin B12 serta folat. Pasien juga dijadwalkan menjalani pemeriksaan lambung ulang dengan biopsi dalam satu hingga dua tahun.

Hal ini karena autoimmune gastritis dikaitkan dengan peningkatan risiko tumor lambung tertentu dalam jangka panjang.

Kasus ini menjadi pengingat bahwa defisiensi zat besi yang tidak jelas penyebabnya, tidak selalu berkaitan dengan pola makan atau perdarahan.

Pada pasien yang sudah memiliki penyakit autoimun, kondisi itu bisa menjadi sinyal bahwa sistem imun sedang menyerang organ lain yang belum terdeteksi.

(rti)

Read Entire Article
| | | |