CNN Indonesia
Kamis, 22 Jan 2026 11:00 WIB
Ilustrasi. Paparan timbal pada anak bisa berefek jangka panjang, termasuk pada perkembangan otak anak. (iStockphoto)
Jakarta, CNN Indonesia --
Sekitar 1 dari 7 anak di Indonesia terpapar logam berat timbal. Paparan ini bisa berefek jangka panjang pada anak, termasuk pada perkembangan otak.
Hasil tersebut ditemukan dalam studi teranyar yang digagas Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) pada 1.617 anak usia 1-5 tahun. Kebiasaan orang tua saat pulang kerja dan mainan anak disebut jadi salah satu penyebabnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Padahal, paparan timbal sendiri memiliki efek jangka panjang, utamanya pada anak sebagai kelompok rentan.
Direktur Kesehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Then Suyanti mengatakan, efek paparan timbal bersifat kumulatif. Biasanya, efek akan muncul saat seseorang sudah terpapar dalam jumlah banyak dan jangka panjang.
"Jadi efeknya [paparan timbal] ini jangka panjang, ya. Dia enggak terlihat gejala langsung. Kadar tinggi [timbal] yang kami temukan pun dia tidak bergejala," ujar Then di Jakarta Selatan, Rabu (21/1), mengutip detikhealth.
Jika pun ada, maka gejala baru bisa terlihat saat anak sudah mengalami anemia. Kandungan timbal dalam darah diketahui dapat memicu anemia.
Efek timbal terhadap tumbuh kembang anak
Yang perlu diperhatikan adalah efek paparan timbal terhadap tumbuh kembang anak. Paparan timbal bisa memicu gangguan otak dan saraf, menurunkan IQ dan kecerdasan, dan keterlambatan tumbuh kembang.
"Kasihan anak-anak kita, IQ-nya jadi tidak bagus, tumbuh kembangnya jelek, kemudian stunting," ujar Then.
Hal yang saja juga diungkapkan oleh Kepala Organisasi Riset Kesehatan BRIN Ni Luh Putu Indi Dharmayanti.
"Sejumlah studi menunjukkan, bahkan paparan timbal pada kadar terendah pun mempu mengganggu perkembangan otak, fungsi kognitif, serta perilaku anak," ujar Indi, mengutip laman BRIN.
Dalam konteks pembangunan jangka panjang, lanjut dia, gangguan ini bisa menurunkan kualitas sumber daya manusia.
Paparan timbal kini diakui sebagai salah satu ancaman kesehatan yang paling serius bagi anak-anak di Indonesia.
Anak merupakan kelompok paling rentan terhadap paparan timbal. Tubuh anak memiliki kemampuan menyerap timbal 4-5 kali lebih banyak dibanding orang dewasa.
(asr)

















































