CNN Indonesia
Minggu, 05 Apr 2026 09:30 WIB
Ilustrasi. Johatsu atau jouhatsu adalah fenomena yang tengah booming di Jepang, orang sengaja menghilang dari kehidupan lamanya. (istockphoto/francescoch)
Jakarta, CNN Indonesia --
Ada banyak hal unik yang sering dikaitkan dengan Jepang. Mulai dari layanan menyewa keluarga palsu hingga berbagai jasa tak biasa yang terdengar seperti fiksi.
Namun, di balik itu, ada fenomena yang jauh lebih sunyi dan kelam, orang-orang yang memilih menghilang dari kehidupannya sendiri.
Fenomena ini dikenal dengan istilah johatsu, secara harfiah berarti 'menguap'. Seperti uap yang lenyap tanpa jejak, mereka pergi tanpa kabar, meninggalkan pekerjaan, keluarga, dan identitas lama, lalu memulai hidup baru di tempat lain.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sekilas, konsep ini terdengar seperti alur cerita drama kriminal. Namun di Jepang, hal tersebut nyata, bahkan ada perusahaan yang membantu proses 'menghilang' itu.
Menghilang sebagai Pilihan
Melansir Jobs in Japan, Johatsu merujuk pada seseorang yang secara sengaja meninggalkan kehidupannya tanpa jejak. Mereka tidak sekadar pindah atau memulai lembaran baru secara terbuka, tetapi benar-benar memutus semua koneksi masa lalu.
Fenomena ini bukan hal yang sepenuhnya unik di Jepang. Di berbagai negara, selalu ada kisah seseorang yang ditemukan hidup dengan identitas baru.
Namun, yang membuat Jepang berbeda adalah adanya sistem dan layanan yang secara khusus membantu proses tersebut.
Istilah johatsu atau jouhatsu sendiri mulai dikenal sejak 1960-an. Saat itu, stigma terhadap perceraian di Jepang sangat tinggi. Alih-alih menghadapi tekanan sosial, sebagian orang memilih pergi begitu saja.
Memasuki era 1990-an, fenomena ini kembali mencuat seiring memburuknya kondisi ekonomi Jepang. Banyak orang yang terlilit utang atau mengalami kegagalan bisnis memilih menghilang sebagai jalan keluar.
Namun, alasan di balik keputusan ini tidak sesederhana itu. Tekanan sosial, budaya kerja yang intens, hubungan yang tidak sehat, hingga kekerasan dalam rumah tangga menjadi faktor yang kerap mendorong seseorang untuk pergi tanpa pamit.
Di era teknologi seperti sekarang, menghilang tanpa jejak mungkin terdengar mustahil. Data kependudukan, catatan pajak, hingga layanan kesehatan di Jepang tercatat dengan sangat rapi.
Namun di sisi lain, Jepang juga memiliki aturan privasi yang ketat. Informasi pribadi tidak bisa diakses sembarangan, bahkan oleh keluarga sendiri. Hal ini justru membuka celah bagi seseorang untuk benar-benar menghilang, selama mereka tahu caranya.
Di sinilah peran jasa seperti night movers menjadi penting bagi mereka yang ingin memulai hidup baru tanpa ditemukan.
Peran "Night Movers"
Ilustrasi. Peran night movers dalam budaya Johatsu Jepang. (istockphoto/Ekkasit Jokthong)
Di balik fenomena ini, ada layanan yang dikenal sebagai yonige-ya atau "night movers". Mereka adalah perusahaan yang membantu seseorang meninggalkan kehidupannya secara diam-diam.
Biasanya, proses dilakukan pada malam hari. Barang-barang dipindahkan, dokumen diurus, dan klien dipindahkan ke lokasi baru, semuanya dilakukan tanpa menarik perhatian.
Meski terdengar dramatis, layanan ini sering kali digunakan untuk alasan yang sangat serius. Banyak klien merupakan korban kekerasan domestik atau hubungan abusif yang membutuhkan perlindungan segera.
Biaya layanan ini bervariasi, mulai dari puluhan ribu hingga ratusan ribu yen, tergantung kompleksitas kasus. Beberapa perusahaan bahkan bekerja sama dengan pengacara atau konselor untuk membantu klien menyelesaikan masalah hukum, utang, atau administrasi.
Selama tidak terlibat dalam tindakan kriminal, layanan ini berada di area yang legal di Jepang.
Angka yang sering disalahpahami
Setiap tahun, Jepang mencatat sekitar 80 ribu hingga 100 ribu kasus orang hilang. Angka ini terlihat besar, tetapi sebenarnya relatif rendah dibandingkan negara maju lainnya.
Sebagai perbandingan, Inggris yang memiliki populasi sekitar setengah Jepang mencatat sekitar 170.000 kasus orang hilang setiap tahun.
Dari jumlah tersebut, sekitar 95 persen orang hilang di Jepang biasanya berhasil ditemukan. Artinya, hanya sebagian kecil yang benar-benar menghilang dalam arti johatsu.
Melansir Monocle, sering kali angka johatsu dibesar-besarkan dengan mencampuradukkan berbagai kasus orang hilang, mulai dari demensia hingga penculikan. Padahal, kasus johatsu yang sebenarnya kemungkinan jauh lebih sedikit.
Meski demikian, fenomena ini tetap nyata dan tidak bisa diabaikan.
Di balik setiap orang yang menghilang, ada keluarga dan orang-orang terdekat yang ditinggalkan. Mereka harus hidup dengan ketidakpastian, tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, apakah orang tersebut masih hidup, atau mengapa mereka pergi.
Johatsu mungkin jarang dibicarakan secara terbuka di Jepang, tetapi fenomena ini tetap menjadi bagian dari realitas sosial yang kompleks. Ia bukan sekadar kisah tentang pelarian, melainkan juga tentang tekanan hidup, rasa putus asa, dan pilihan ekstrem yang diambil seseorang ketika merasa tidak lagi memiliki jalan lain.
(tis/tis)
Add
as a preferred source on Google

















































