CNN Indonesia
Jumat, 06 Feb 2026 15:30 WIB
Ilustrasi. Pemerintah Kota Fujiyoshida, Jepang resmi membatalkan festival bunga sakura lantaran perilaku turis yang meresahkan penduduk setempat. (REUTERS/Issei Kato)
Jakarta, CNN Indonesia --
Pemerintah kota Fujiyoshida, Jepang, resmi membatalkan festival bunga sakura yang dinanti-nantikan karena perilaku turis yang meresahkan penduduk setempat. Pembatalan Arakurayama Sengen Park Cherry Blossom Festival ini diumumkan pada Selasa (3/2).
Festival yang populer ini rutin diadakan setiap tahun ketika musim semi (sekitar bulan April) di Jepang. Namun, kota yang ada di Prefektur Yamanashi tersebut mendengar banyak keluhan dari masyarakat karena ledakan wisatawan (overtourism). Perilaku turis yang sulit diatur dan mengganggu juga menjadi keresahan di sana.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pemerintah setempat memutuskan untuk tidak menggelar Arakurayama Sengen Park Cherry Blossom Festival. Meski sangat dinantikan, tapi festival tersebut juga dikhawatirkan bikin kunjungan turis tahun ini semakin membeludak.
Festival tersebut biasanya mampu menarik sampai 200 ribu pengunjung setiap tahun. Sementara pada puncak musim bunga sakura, setiap harinya ada 10 ribu turis yang berbondong-bondong menyerbu Fujiyoshida. Kepadatan ini dikhawatirkan semakin parah apabila Sengen Park Cherry Blossom Festival tetap dilanjutkan.
Selain itu, lonjakan pengunjung asing juga terjadi di Fujiyoshida. Hal ini membuat Fujiyoshida mengalami tekanan serius.
Pejabat kota mengatakan, turis yang datang semakin sering melakukan perilaku yang tidak pantas alias mengganggu sampai mengancam kualitas hidup penduduk lokal.
Dari beberapa insiden yang disorot, masalah sanitasi adalah salah satu persoalan yang paling mengganggu penduduk. Kerap kali turis masuk ke rumah warga untuk menggunakan toilet. Lebih parahnya lagi, ada yang sampai buang air kecil di halaman rumah penduduk.
Kendati Sengen Park Cherry Blossom Festival dibatalkan, jumlah pengunjung diprediksi tetap mengalami peningkatan selama musim sakura.
Sebagai langkah persiapan menghadapi lonjakan wisatawan tersebut, pemerintah setempat berencana untuk meningkatkan keamanan, menyediakan lebih banyak area parkir, sampai memasang toilet portabel di beberapa titik. Diharapkan upaya ini dapat mengurangi kemacetan dan gangguan yang dialami penduduk.
Pada tahun 2025, Jepang mengalami ledakan pariwisata. Tercatat 42,7 juta kedatangan internasional. Angka ini melampaui rekor di tahun sebelumnya.
(ana/asr)















































