Jakarta, CNN Indonesia --
Pusat perbelanjaan optimistis momentum libur akhir pekan panjang (long weekend) Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan RI pada 15-17 Agustus 2026 mampu mengerek transaksi konsumsi masyarakat.
Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) Alphonzus Widjaja menargetkan kenaikan transaksi sekitar 15 persen-20 persen selama periode long weekend tersebut.
Menurut Alphonzus, momentum tersebut turut didukung penyelenggaraan Indonesia Shopping Festival (ISF) 2026 yang berlangsung pada 7-23 Agustus 2026.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"15 persen-20 persen," ujar Alphonzus saat ditanya mengenai target kenaikan transaksi pusat perbelanjaan selama periode long weekend HUT RI.
Ia berharap berbagai program diskon dan promosi yang ditawarkan dalam ISF 2026 dapat memberikan dampak signifikan terhadap peningkatan transaksi sekaligus kunjungan ke pusat perbelanjaan.
Alphonzus mengatakan ISF awalnya hanya ditujukan untuk memeriahkan peringatan HUT RI. Namun, gelaran tersebut kini juga diarahkan untuk menopang daya beli masyarakat, khususnya kelas menengah bawah, serta membantu penjualan peritel di segmen tersebut di tengah periode low season.
"ISF 2026 juga mengangkat produk dan merek dalam negeri, UMKM, kuliner Nusantara yang mana juga diharapkan dapat menopang daya beli masyarakat khususnya kelas menengah bawah dikarenakan barang dan produk menjadi lebih terjangkau," jelasnya.
Tahun ini, ISF menghadirkan beragam promo belanja, acara hiburan, serta kegiatan budaya Nusantara. Pengunjung juga berkesempatan mendapatkan berbagai hadiah, termasuk grand prize berupa mobil listrik.
APPBI menargetkan total transaksi selama ISF 2026 mencapai sekitar Rp38,97 triliun, dengan jumlah kunjungan diproyeksikan meningkat sekitar 10 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Meski demikian, Analis Senior Indonesia Strategic and Economic Action Institution (ISEAI) Ronny P. Sasmita menilai peningkatan aktivitas ekonomi selama long weekend belum bisa langsung dimaknai sebagai tanda pulihnya daya beli kelas menengah.
Menurutnya, momentum HUT RI, libur panjang, promosi pusat perbelanjaan, hingga kegiatan hiburan memang berpotensi meningkatkan traffic ke mal, restoran, tempat wisata, dan sektor ritel.
Namun, kelas menengah saat ini cenderung lebih sensitif terhadap harga.
"Ketika ada diskon besar, mereka bisa kembali berbelanja karena merasa mendapatkan value for money. Tetapi ini berbeda dengan kondisi ketika pendapatan dan daya beli mereka benar-benar menguat," ujar Ronny.
Ia menilai diskon 17 Agustus dapat mendongkrak transaksi dalam jangka pendek. Namun, dampaknya terhadap pemulihan daya beli secara struktural masih terbatas karena diskon tidak serta-merta meningkatkan pendapatan permanen rumah tangga.
Ronny juga mengingatkan adanya potensi pull-forward consumption, yakni masyarakat yang semula baru berencana berbelanja pada bulan berikutnya memilih melakukan transaksi lebih awal karena adanya promo.
"Akibatnya transaksi pada long weekend melonjak, tetapi bukan berarti total konsumsi dalam beberapa bulan ke depan meningkat sebesar kenaikan transaksi tersebut," jelasnya.
Karena itu, Ronny menilai indikator yang lebih penting adalah kinerja penjualan setelah periode promosi berakhir.
Jika penjualan kembali melemah setelah long weekend, maka kenaikan transaksi lebih mencerminkan efek promosi dan momentum.
Sebaliknya, apabila penjualan tetap meningkat setelah periode diskon, hal tersebut dapat menjadi sinyal bahwa kepercayaan dan kemampuan belanja masyarakat mulai membaik.
Untuk long weekend 15-17 Agustus, Ronny tetap optimistis traffic dan transaksi ritel akan meningkat, terutama di pusat perbelanjaan, sektor kuliner, rekreasi, serta barang-barang diskresioner yang mendapatkan promosi.
Namun, ia mengingatkan agar kenaikan tersebut tidak buru-buru disebut sebagai kebangkitan daya beli kelas menengah.
"Diskon bisa membuat masyarakat lebih mampu membeli barang hari ini, tetapi tidak otomatis membuat mereka lebih mampu membeli barang besok," imbuhnya.
Menurut Ronny, pemulihan daya beli yang lebih fundamental membutuhkan peningkatan pendapatan riil, lapangan kerja yang lebih baik, beban cicilan yang lebih ringan, serta kepastian ekonomi yang lebih tinggi.
Dengan demikian, ia menilai diskon HUT RI dapat menjadi stimulus positif bagi konsumsi dalam jangka pendek, tetapi bukan solusi utama atas persoalan daya beli kelas menengah.
"Kalau ingin daya beli benar-benar pulih, yang harus diperbaiki bukan hanya harga barangnya, tetapi juga kemampuan masyarakat untuk memperoleh pendapatan yang lebih tinggi dan lebih stabil," pungkasnya.
(ldy/sfr)


















































