Gen Z Banyak Kena Kanker Usus Besar, Makanan Ini Jadi Biang Keroknya

3 hours ago 4

tis | CNN Indonesia

Rabu, 04 Feb 2026 06:30 WIB

Kasus kanker usus besar pada Gen Z meningkat. Studi terbaru mengaitkannya dengan konsumsi ultra processed food yang kian masif. Ilustrasi. Waspada, ada makanan yang bisa memicu kanker usus besar di kalangan Gen Z. (iStockphoto/Raycat)

Jakarta, CNN Indonesia --

Kasus kanker usus besar yang dulu identik dengan kelompok usia lanjut, kini makin sering ditemukan pada usia muda, termasuk generasi Z. Fenomena ini bukan sekadar anomali, melainkan sinyal pergeseran pola penyakit yang mulai mengkhawatirkan para ahli.

Sebuah studi kanker kolorektal terbaru mengungkap hubungan signifikan antara konsumsi ultra processed food dengan meningkatnya kasus kanker usus besar dini. Temuan ini memberi petunjuk penting di balik melonjaknya kasus kanker kolorektal pada anak muda di berbagai belahan dunia.

Seiring meningkatnya angka kanker usus besar dan rektum pada orang dewasa muda, khususnya di Amerika Serikat, konsumsi ultra processed food juga melesat tajam. Saat ini, sekitar 70 persen pasokan makanan di AS dan hampir 60 persen asupan kalori orang dewasa berasal dari makanan ultra-olahan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Studi pertama dari jenisnya yang dipublikasikan di JAMA Oncology ini menambah bukti bahwa ultra processed food dapat secara signifikan meningkatkan risiko terbentuknya adenoma kolorektal dini. Adenoma merupakan pertumbuhan jaringan awal di usus besar dan rektum yang berpotensi berkembang menjadi kanker, bahkan sebelum usia 50 tahun.

Dalam studi tersebut, sumber utama ultra processed food yang dikonsumsi peserta meliputi roti dan makanan sarapan kemasan, saus dan bumbu instan, serta minuman manis atau minuman buatan.

Peserta yang mengonsumsi ultra processed food paling banyak, sekitar 10 porsi per hari memiliki risiko 45 persen lebih tinggi mengalami pertumbuhan jaringan awal ini dibandingkan mereka yang hanya mengonsumsi sekitar tiga porsi per hari.

"Temuan ini tidak bersifat definitif, tetapi memberikan petunjuk penting bahwa apa yang kita makan mungkin berperan," ujar penulis senior studi tersebut, Andrew Chan dari Mass General Brigham Cancer Institute.

Para ahli juga mencatat, ultra processed food telah lama dikaitkan dengan berbagai masalah kesehatan lain, seperti diabetes tipe 2 dan penyakit kardiovaskular. Makanan jenis ini umumnya mengandung banyak zat aditif, termasuk pengawet, emulsifier, pemberi rasa, serta bahan pemutih atau pengembang.

Kandungan seratnya rendah, tetapi tinggi kalori, gula, lemak, garam, dan biji-bijian olahan.

"Sebisa mungkin, hindari ultra processed food dan susun pola makan dari makanan utuh seperti sayuran, buah-buahan, biji-bijian utuh, kacang-kacangan atau legum, serta air putih," " kata David Katz, pendiri True Health Initiative dikutip dari Economic Times.

Masalahnya, pertumbuhan jaringan awal di usus besar sering kali tidak menimbulkan gejala. Namun, ketika ukurannya membesar, kondisi ini bisa memicu tinja berwarna gelap atau berdarah, nyeri perut, anemia, konstipasi, hingga penurunan berat badan tanpa sebab jelas.

Karena itu, para ahli merekomendasikan skrining kanker kolorektal dimulai pada usia 45 tahun, atau lebih awal jika memiliki riwayat keluarga.

Fenomena meningkatnya kanker usus besar pada usia muda juga mulai terlihat di Indonesia. Direktur Utama RS Kanker Dharmais, R Soeko Werdi Nindito menyebut terjadi perubahan nyata pada profil usia pasien kanker.

"Usia pengidap kanker semakin muda, termasuk kanker kolorektal yang sebelumnya jarang ditemukan pada usia di bawah 40 tahun," ujar Soeko, dikutip dari Detik.

Ia menjelaskan, penyebab kanker umumnya tidak tunggal. Pada kanker usus besar, pola makan dan gaya hidup menjadi faktor yang sangat diperhatikan.

Pola makan rendah serat, tinggi gula, konsumsi makanan olahan, kebiasaan merokok, kurang aktivitas fisik, hingga obesitas diduga berperan besar.

Gaya hidup generasi muda saat ini dinilai sangat berbeda dibanding generasi sebelumnya. Konsumsi minuman manis dan makanan cepat saji yang tinggi gula dan lemak, aktivitas fisik yang minim karena lebih banyak duduk di depan gawai, serta pola tidur tidak teratur membuat paparan risiko terjadi lebih dini.

Meski demikian, Soeko mengingatkan masyarakat agar tidak terjebak pada upaya mencari satu penyebab pasti. Menurutnya, langkah yang jauh lebih penting adalah memperkuat upaya promotif dan preventif.

"Jangan pusing soal mencari satu penyebab. Dalam kanker ada tujuh program promotif dan preventif yang perlu dipromosikan ke masyarakat," ujarnya.

"Pola hidup sehat, jangan merokok, jangan konsumsi gula berlebihan. Yang kedua deteksi dini. Kalau sudah merasa tidak enak, ada cek kesehatan gratis, di situ ada kemungkinan deteksi kanker tahap awal," lanjutnya.

Ia juga menekankan pentingnya kewaspadaan terhadap gejala seperti perubahan pola buang air besar, BAB berdarah, perut kembung yang menetap, atau berat badan turun tanpa sebab jelas. Deteksi dini di layanan kesehatan primer, seperti puskesmas, dinilai krusial agar kanker dapat ditemukan sebelum mencapai stadium lanjut.

"Kalau masyarakat lebih sadar dan rutin cek kesehatan, sangat mungkin kanker ditemukan di tahap awal," tutup Soeko.

(tis/tis)

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
| | | |