Jakarta, CNN Indonesia --
PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) kembali mencatatkan kinerja positif di sepanjang tahun 2025, mulai dari total aset, pencapaian laba bersih, penyaluran kredit, hingga perolehan dana pihak ketiga (DPK). Memasuki usia ke-76 tahun pada 9 Februari 2026, BTN mengumumkan sepanjang tahun 2025 mampu membukukan total aset konsolidasian sebesar Rp527,8 triliun, atau tumbuh sebesar 12,4 persen yoy (Year-on-Year).
Hal ini menunjukkan kemampuan BTN menjaga pertumbuhan yang stabil dan solid dengan indikator keuangan yang sehat di tengah berbagai tantangan dan dinamika makroekonomi.
Direktur Utama BTN, Nixon LP Napitupulu mengatakan, pencapaian aset tersebut merupakan bukti dari kiprah BTN selama 7 dekade lebih dengan penyaluran 5,8 juta unit rumah, termasuk kepada masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) dan sektor informal, dengan pangsa pasar KPR mencapai 39 persen secara nasional.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Atas peran esensial di sektor perumahan nasional itu, BTN membukukan laba bersih konsolidasian sebesar Rp3,5 triliun pada 2025, bertumbuh sebesar 16,4 persen yoy dibandingkan periode yang sama 2024 sebesar Rp3,0 triliun.
"BTN berhasil mengakselerasi pertumbuhan bisnis sepanjang tahun 2025 yang ditopang penguatan profitabilitas dan proses bisnis yang semakin efisien berkat transformasi yang konsisten dilakukan di berbagai lini. Kinerja yang positif ini merupakan hasil kerja keras atas penerapan strategi bisnis yang cermat serta pengelolaan keuangan yang sehat dan disiplin," ujar Nixon di Jakarta, Senin (9/2).
Capaian itu dipicu oleh pendapatan bunga yang naik 23,0 persen yoy menjadi Rp36,3 triliun hingga akhir 2025. Di sisi lain, peningkatan di beban bunga sangat minim yaitu 0.4% yoy menjadi Rp17,9 triliun per akhir 2025. BTN membukukan pendapatan bunga bersih yang naik 57,5 persen menjadi Rp18,4 triliun pada akhir 2025 dibandingkan Rp11,7 triliun pada tahun 2024.
Nixon menuturkan, BTN berhasil memperkuat profitabilitas dengan memperbaiki proses bisnis di sisi penyaluran kredit dan pengelolaan portofolio yang menghasilkan pertumbuhan lebih cepat, serta upaya yang konsisten dalam memperoleh pendanaan yang berbiaya lebih murah.
"Hal ini berbuah peningkatan margin bunga bersih (net interest margin/NIM) menjadi 4,2% pada akhir 2025, naik 133 basis poin (bps) dari tahun sebelumnya sebesar 2,9%," tuturnya.
Hingga akhir 2025, BTN mencatatkan penyaluran kredit dan pembiayaan konsolidasian sebesar 11,9% yoy menjadi Rp400,6 triliun, dari Rp358,9 triliun pada 2024. Nixon menjelaskan, mayoritas kredit BTN disalurkan ke sektor perumahan, dengan penyaluran kreditnya mencapai Rp328,4 triliun hingga Desember 2025.
Di kredit perumahan, BTN membukukan pertumbuhan KPR Subsidi sebesar 10% yoy menjadi Rp191,2 triliun pada akhir 2025, dibandingkan tahun sebelumnya sebesar Rp173,8 triliun. Sedangkan KPR Non-Subsidi BTN meningkat 6,7% yoy menjadi Rp113,0 triliiun hingga akhir tahun lalu, dibandingkan tahun sebelumnya sebesar Rp106,0 triliun.
Ekspansi kredit BTN di sektor perumahan pada 2025 salah satunya ditopang oleh keterlibatan perseroan dalam Kredit Program Perumahan (KPP). Nixon mengatakan, BTN menjadi bank penyalur KPP terbesar dengan total penyaluran mencapai Rp2,6 triliun hingga akhir 2025, hampir separuh dari total penyaluran KPP secara nasional.
"KPP menjadi mesin baru untuk mendorong pertumbuhan kredit BTN serta menawarkan profitabilitas yang lebih baik karena marginnya yang lebih tinggi dibandingkan KPR Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP). Kami berharap program ini dapat menjadi solusi bagi wirausaha yang membutuhkan rumah yang sekaligus menjadi tempat usaha mereka," kata Nixon.
Sementara, peningkatan kepercayaan masyarakat turut memicu perolehan DPK konsolidasian yang tumbuh 14,6% yoy menjadi Rp437,4 triliun pada akhir tahun lalu. Nixon menjelaskan, pertumbuhan DPK BTN yang dobel digit turut didukung oleh akselerasi pertumbuhan transaksi digital terutama di superapp Bale by BTN.
BTN membukukan jumlah pengguna (user) Bale by BTN yang tumbuh pesat 66,1% yoy menjadi 3,7 juta hingga akhir 2025 dibandingkan tahun 2024 sebanyak 2,2 juta. Peningkatan ini mendongkrak jumlah transaksi Bale yang melonjak 79,2% yoy menjadi 2,2 miliar per 31 Desember 2025 dari tahun sebelumnya sebanyak 1,2 miliar. Sementara itu, nilai transaksi menembus Rp103,6 triliun, naik 27,7% yoy dari tahun sebelumnya sebesar Rp81,1 triliun.
Saldo user Bale by BTN terus meningkat, terlihat dari kontribusinya sebesar Rp22,8 triliun terhadap DPK BTN hingga akhir 2025, naik 15,3% yoy dari periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp19,7 triliun.
"Nominal saldo rata-rata pengguna Bale lebih tinggi, sehingga turut mendorong pertumbuhan DPK BTN terutama transaksi dana murah. Kami akan terus mendorong positioning Bale sebagai superapp yang menawarkan ekosistem terintegrasi untuk solusi transaksi keuangan keluarga, baik yang terkait dengan kebutuhan perumahan maupun berbagai macam lifestyle lainnya," ujar Nixon.
Pertumbuhan bisnis yang positif diiringi peningkatan kualitas kredit di 2025, terlihat dari rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) gross yang menurun ke level 3,1% dari tahun sebelumnya 3,2%. Sebagai upaya memperbaiki struktur risiko, BTN melakukan peningkatan pencadangan atau NPL Coverage menjadi 123,9% pada akhir 2025, naik 856 bps dari tahun sebelumnya di level 115,4%.
BTN juga memperkuat permodalan sebagai buffer risiko sekaligus menopang ekspansi bisnis, terlihat dari rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) yang berada di level 20,9% per 31 Desember 2025, naik 240 bps dari periode yang sama tahun sebelumnya di level 18,5%.
"BTN memproyeksikan NPL dapat menurun hingga di bawah 3,0% pada akhir tahun 2026 sejalan dengan membaiknya kualitas kredit," ujar Nixon.
Pada 2025, BTN secara resmi melaksanakanpendirian anak usaha Bank Syariah Nasional (BSN) sebagai bank syariah terbesar kedua di Indonesia. Nixon menuturkan, BSN diharapkan dapat mengembangkan pangsa pasar serta mampu menjawab kebutuhan masyarakat akan produk dan layanan perbankan syariah yang mumpuni.
BSN membukukan total aset sebesar Rp73 triliun pada akhir 2025, meningkat 20,5% yoy dibandingkan tahun sebelumnya sebesar Rp61 triliun. Pertumbuhan itu ditopang oleh penyaluran pembiayaan yang naik 25,0% yoy menjadi Rp55 triliun dibandingkan tahun sebelumnya sebesar Rp44 triliun.
Pertumbuhan dobel digit juga terlihat dalam perolehan DPK, 18,4% yoy menjadi Rp59 triliun per 31 Desember 2025, dibandingkan tahun 2024 sebesar Rp50 triliun.
"Dengan langkah Beyond Mortgage, BTN terus memantapkan aspirasinya untuk menjadi consumer bank yang memberikan solusi finansial terintegrasi bagi seluruh kebutuhan nasabah, sekaligus menjalankan mandat pemerintah untuk mendukung pembangunan perumahan nasional melalui akses pembiayaan kepemilikan rumah yang terjangkau bagi semua segmen masyarakat. Melalui aspirasi ini, BTN berharap dapat memberikan value creation bagi kesejahteraan rakyat dan perekonomian secara keseluruhan," pungkas Nixon.
(rea/rir)

















































