Jakarta, CNN Indonesia --
Harga minyak dunia kembali naik pada awal pekan ini, Senin (6/4), seiring berlanjutnya perang Iran melawan agresi Amerika Serikat (AS), yang mengganggu pasokan energi global.
Harga minyak mentah Brent tercatat naik US$1,71 atau 1,6 persen menjadi US$110,74 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) naik US$0,71 atau 0,6 persen ke level US$112,25 per barel.
Kenaikan ini dipicu kekhawatiran pasar terhadap terganggunya jalur distribusi minyak di Timur Tengah, terutama di Selat Hormuz yang hingga kini masih dibatasi oleh Iran sejak konflik pecah pada 28 Februari lalu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selat Hormuz merupakan jalur vital yang dilalui ekspor minyak dari sejumlah negara produsen utama seperti Irak, Arab Saudi, Qatar, Kuwait, dan Uni Emirat Arab.
Lonjakan harga juga terjadi pada perdagangan sebelumnya. Pada Kamis pekan lalu, harga WTI melonjak lebih dari 11 persen, sementara Brent naik hampir 8 persen, menjadi kenaikan harian terbesar sejak 2020. Kondisi ini terjadi setelah Presiden AS Donald Trump berjanji akan melanjutkan serangan terhadap Iran.
Di tengah gangguan pasokan, kilang minyak global kini mulai mencari sumber alternatif, termasuk dari kawasan Pantai Teluk AS dan Laut Utara Inggris.
"Pembeli global bersaing agresif untuk mendapatkan pasokan dari Pantai Teluk AS dan harga Brent naik lebih cepat," demikian catatan analis dari Schork Group dikutip Reuters.
Meski demikian, data pelayaran menunjukkan sejumlah kapal masih dapat melintasi Selat Hormuz, termasuk kapal tanker yang dioperasikan Oman, kapal kontainer milik Prancis, serta kapal pengangkut gas dari Jepang. Hal ini mencerminkan kebijakan Iran yang masih memberi akses terbatas bagi negara yang dianggap bersahabat.
Di sisi lain, ketegangan diperkirakan akan terus berlanjut. Iran dilaporkan menolak upaya perundingan gencatan senjata dan enggan bertemu pejabat AS dalam mediasi yang direncanakan di Islamabad, Pakistan.
Sementara itu, kelompok produsen minyak OPEC+ menyepakati peningkatan produksi sebesar 206 ribu barel per hari untuk Mei. Namun, keputusan tersebut dinilai belum akan berdampak signifikan karena sejumlah negara produsen masih menghadapi kendala produksi akibat konflik.
Situasi ini membuat pasar energi global tetap berada dalam tekanan, dengan risiko kenaikan harga yang masih terbuka dalam beberapa waktu ke depan.
(lau/pta)
Add
as a preferred source on Google


















































