Jakarta, CNN Indonesia --
Harga minyak dunia melemah pada perdagangan Selasa (6/1), seiring pelaku pasar mempertimbangkan prospek meningkatnya produksi minyak mentah Venezuela setelah Amerika Serikat (AS) menangkap Presiden Nicolas Maduro.
Tekanan harga juga dipicu oleh ekspektasi pasokan global yang melimpah di tengah permintaan yang masih lemah.
Mengutip Reuters, harga minyak mentah Brent turun 0,2 persen ke level US$61,62 per barel. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) melemah 0,3 persen ke posisi US$58,15 per barel.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Analis Marex Ed Meir menilai potensi peningkatan produksi minyak Venezuela akan menambah tekanan pada pasar yang saat ini sudah kelebihan pasokan.
"Saya pikir jika skenario kebijakan Trump bahkan sebagian saja terwujud, produksi minyak mentah Venezuela akan meningkat. Jika itu terjadi, akan ada tekanan tambahan pada pasar yang sudah kelebihan pasokan," ujar Meir.
Pelaku pasar memprediksi harga minyak akan berada di bawah tekanan pada 2026 akibat pertumbuhan pasokan dan lemahnya permintaan global. Tekanan tersebut kini berpotensi semakin besar setelah penangkapan Maduro oleh AS pada akhir pekan lalu.
Penangkapan tersebut dinilai meningkatkan peluang berakhirnya embargo AS terhadap minyak Venezuela, sekaligus membuka jalan bagi peningkatan produksi.
Seorang sumber yang mengetahui rencana tersebut mengatakan kepada Reuters bahwa pemerintahan Presiden Donald Trump akan bertemu dengan para eksekutif perusahaan minyak AS pekan ini untuk membahas peningkatan produksi minyak Venezuela.
Venezuela merupakan salah satu negara pendiri Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC) dan memiliki cadangan minyak terbesar di dunia, sekitar 303 miliar barel.
Namun, sektor minyak negara tersebut telah lama mengalami kemerosotan akibat minimnya investasi dan sanksi AS.
(ldy/sfr)


















































