CNN Indonesia
Selasa, 27 Jan 2026 20:17 WIB
Ilustrasi. Gula tambahan kerap tersalip dalam label kemasan anak melalui istilah yang kurang dipahami. (iStockphoto)
Jakarta, CNN Indonesia --
Kemasan makanan anak mungkin tampak aman dan informatif. Tapi sayangnya, gula tambahan kerap terselip dalam label pangan melalui istilah yang tidak selalu dipahami orang tua.
Dokter spesialis anak subspesialis nutrisi dan penyakit metabolik, Klara Yuliarti menegaskan bahwa gula pada label pangan tidak selalu ditulis secara sederhana, sehingga mudah menimbulkan salah tafsir.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Gula ini memang banyak menimbulkan kebingungan kalau untuk awam. Karena belum ada ketentuan, masih bervariasi istilahnya. Ada yang menyebut gula itu sebagai gula, ada juga yang mengatakan karbohidrat itu gula," kata Klara dalam seminar media daring Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Selasa (27/1).
Dalam pemaparannya, Klara menjelaskan bahwa gula pada produk pangan anak bisa berasal dari berbagai jenis, baik yang alami maupun yang ditambahkan.
"Sukrosa itu gula pasir, gula sederhana. Kalau di buah, misalnya di jeruk yang terkandung adalah fruktosa. Ada lagi gula lain, maltosa. Ada glukosa. Jadi ini yang harus kita cermati," ujar Klara.
Ia mengatakan bahwa beberapa pabrik kerap memakai istilah gula dan karbohidrat. Padahal, keduanya merupakan sama, karena gula sebetulnya adalah karbohidrat.
Dalam beberapa produk, karbohidrat total terlihat tinggi, tetapi rincian jenis gulanya tidak selalu dijelaskan secara jelas. Akibatnya, orang tua tidak menyadari bahwa sebagian besar karbohidrat tersebut berasal dari gula tambahan.
Sementara itu, pada produk susu, gula alami berasal dari laktosa. Klara memastikan, produk susu akan selalu mengandung laktosa.
Masalah muncul ketika gula tambahan seperti sukrosa dicampurkan dalam jumlah besar, tetapi tidak selalu ditulis secara gamblang sebagai 'gula tambahan' pada label.
Klara menyoroti bahwa kandungan gula tambahan pada sejumlah produk anak bisa jauh melampaui rekomendasi kesehatan global.
"Karena WHO menyarankan, bahwa dalam asupan satu hari, gula tambahan tidak boleh lebih dari 10 persen," ujarnya.
Namun, pada beberapa produk, kandungan gula tambahan mencapai lebih dari seperempat total energi. Kondisi ini berisiko jika dikonsumsi rutin, terutama oleh anak.
"Kalau sudah minum susu ini, dia benar-benar tidak boleh ada gula tambahan lagi sama sekali. Karena dari susu ini saja, kadar gulanya tinggi," kata Klara.
Kendati demikian, gula tambahan bukan berarti harus dihindari sepenuhnya, tetapi perlu dikontrol dengan ketat. Klara mengingatkan, konsumsi gula tambahan berlebih dapat menggeser asupan gizi lain yang penting untuk si kecil.
Oleh karena itu, ia meminta orang tua tidak hanya terpaku pada rasa atau klaim di kemasan, tetapi benar-benar mencermati label pangan secara menyeluruh.
(nga/asr)


















































