Workshop Kreasi Kriya Keluarga TUNAS mengajak orang tua dan anak melawan kecanduan gawai dengan kerajinan tangan.
MAKASSAR - Peran gawai yang semakin mendominasi dalam kehidupan anak-anak menimbulkan kekhawatiran, terutama di kalangan orang tua. Di tengah situasi ini, Workshop Kreasi Kriya Keluarga TUNAS menghadirkan solusi kreatif untuk mengajak orang tua dan anak lepas sejenak dari layar digital dengan membuat kerajinan tangan bersama.
Kegiatan bertema “Merajut Kehangatan di Era Digital” yang digelar di Trans Studio Mall Makassar pada Kamis (9/7/2026) ini merupakan implementasi semangat PP TUNAS untuk membangun ekosistem digital yang aman bagi anak, dimulai dari interaksi hangat di dalam rumah. Sebagai bentuk aksi nyata, seluruh peserta workshop diajak langsung membuat kerajinan serat lontar berupa Songkok Guru, kerajinan khas Kabupaten Takalar.
Ketua Harian Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas), Tri Tito Karnavian, menegaskan bahwa kehadiran fisik dan perhatian orang tua adalah benteng utama anak di dunia maya. Teknologi tidak boleh menggeser kedekatan emosional keluarga.
“Yang dekat seharusnya semakin didekatkan, bukan justru dijauhkan. Orang tua wajib hadir dalam aktivitas digital anak, bukan hanya sekadar memberikan akses perangkat,” ujar Tri. Ia juga mengingatkan pentingnya batasan waktu gawai (screentime) dan penggunaan fitur kontrol orang tua untuk menghindari risiko cyberbullying hingga penipuan online.
Pentingnya membatasi gawai ini juga dipertegas oleh Psikolog Klinis, Nur Hafidzah. Ia menjelaskan bahwa paparan layar berlebihan tanpa pengawasan bisa memicu overstimulasi otak.
“Saat anak terlalu banyak terpapar dunia digital tanpa batas, aktivitas dopamin di otak meningkat berlebihan. Akibatnya, anak bisa kesulitan berpikir kritis, susah melakukan problem solving, dan menjadi impulsif,” ungkap Nur Hafidzah.


















































