Intip Saham Pendulang Cuan di Pekan Terakhir Januari

3 hours ago 1

Jakarta, CNN Indonesia --

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah 41,17 poin atau minus 0,46 persen ke level 8.951 pada Jumat (23/1) silam.

Investor melakukan transaksi sebesar Rp32,04 triliun dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 64,15 miliar saham.

Dalam sepekan terakhir, indeks saham melemah tiga kali, sementara dia hari sisanya menguat. Tak heran, performa indeks tercatat melemah 1,37 persen sepanjang pekan kemarin.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sementara, Sekretaris Perusahaan Bursa Efek Indonesia (BEI) Kautsar Primadi Nurahmad mengatakan selama periode tanggal 19 sampai dengan 23 Januari 2026 kemarin, perdagangan saham ditutup bervariasi.

Tercatat, kapitalisasi pasar bursa mengalami penurunan sebesar 1,62 persen dari Rp16.512 triliun menjadi Rp16.244 triliun pada pekan lalu. Namun, rata-rata volume transaksi harian mengalami peningkatan yakni sebesar 9,32 persen dari 60,13 miliar menjadi 65,73 miliar lembar saham.

Sementara itu, rata-rata nilai transaksi harian mengalami peningkatan sebesar 3,59 persen dari Rp32,67 triliun menjadi Rp33,85 triliun. Di sisi lain, rata-rata frekuensi transaksi harian mengalami penurunan yakni sebesar 2,66 persen dari 3,86 juta kali transaksi menjadi 3,75 juta kali transaksi pada penutupan pekan lalu.

"Adapun investor asing hari ini mencatatkan nilai beli bersih Rp759 miliar dan sepanjang tahun 2026 ini, investor asing mencatatkan nilai beli bersih sebesar Rp4,05 triliun," katanya dalam keterangan resmi, Jumat (23/1).

Lantas seperti apa proyeksi pergerakan IHSG untuk sepekan ke depan?

VP Equity Retail Kiwoom Sekuritas Indonesia Oktavianus Audi menilai pelemahan IHSG pekan lalu terjadi seiring tekanan jual asing yang mencapai Rp3,27 triliun di seluruh pasar. Ia mencatat saham-saham yang paling banyak dilepas investor asing antara lain BBCA senilai Rp3,8 triliun, BUMI Rp1,3 triliun, serta GOTO Rp420 miliar.

Oktavianus menilai pergerakan pasar saat ini dipengaruhi berbagai sentimen global dan domestik.

"Kami berpandangan pasar dipengaruhi sentimen tensi geopolitik dan pertemuan elite di Davos, selain itu pasar juga merespons ditahannya suku bunga BI di level 4,75 persen serta wacana dimajukannya nama Thomas D sebagai Deputi Gubernur BI," ujarnya kepada CNNIndonesia.com, Minggu (25/1).

Untuk awal pekan depan, Senin (26/1), ia memperkirakan IHSG bergerak mixed dengan kecenderungan melemah pada rentang support 8.850 dan resistance 9.070.

Adapun sentimen yang diperkirakan memengaruhi pasar ke depan antara lain meningkatnya kembali ketidakpastian global seiring kekhawatiran terhadap tensi geopolitik dan kebijakan tarif Amerika Serikat (AS).

Kondisi ini mendorong kenaikan harga aset safe haven, seperti emas yang telah mencapai level US$4.988 per troy ounce, dan berkorelasi positif terhadap saham-saham terkait di BEI.

Selain itu, pasar juga menantikan rilis keputusan Federal Funds Rate (FFR) yang diperkirakan tetap di level 3,75 persen dan cenderung direspons moderat oleh pelaku pasar.

Berdasarkan analisis teknikal, Oktavianus pun merekomendasikan beberapa saham yang bisa dikoleksi. Pertama, saham PT Vale Indonesia Tbk atau INCO yang ditutup menguat 3,83 persen ke posisi 6,775 pada pekan lalu. Oktavianus memproyeksi INCO dapat menyentuh level 7.350 pada pekan ini.

Kedua, saham PT Energi Mega Persada Tbk atau ENRG yang ditutup menguat 2,96 persen ke posisi 1.565 pekan lalu. Oktavianus memproyeksi ENRG dapat menyentuh level 1.800 pada pekan ini.

Sementara itu, Analis Teknikal MNC Sekuritas Herditya Wicaksana memperkirakan indeks saham masih rawan melanjutkan koreksi dalam sepekan ke depan. Ia memperkirakan pergerakan IHSG akan berada pada area support 8.732 dan resistance 9.075.

"IHSG masih rawan melanjutkan koreksi dengan support di 8.732 dan resistance di 9.075," ujar Herditya.

Sejumlah sentimen dinilai akan memengaruhi pergerakan IHSG, antara lain volatilitas nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Selain itu, pergerakan harga komoditas, khususnya emas, juga akan menjadi perhatian investor seiring masih dicermatinya kondisi geopolitik global, perkembangan ekonomi AS, serta arah kebijakan The Fed ke depan.

Faktor lain yang turut diperhatikan pelaku pasar adalah perkembangan MSCI beserta metodologinya, termasuk dampaknya terhadap emiten-emiten yang diperkirakan masuk dalam konstituen indeks tersebut.

Dari sisi data ekonomi, investor juga mencermati rilis data manufaktur China, keputusan suku bunga The Fed yang diperkirakan tetap, serta data Producer Price Index (PPI) AS.

Ia pun menyarankan investor dapat mencermati beberapa saham dari emiten ia rekomendasikan. Herditya merekomendasikan saham PT Aneka Tambang Tbk atau ANTM yang ditutup menguat 1,66 persen level 4.290 pada pekan lalu. Ia memproyeksi ANTM dapat menyentuh level 4.580 pada pekan ini.

Kemudian, Herditya pun merekomendasikan saham PT Hartadinata Abadi Tbk atau HRTA yang ditutup menguat 0,43 persen ke level 2.330 pada pekan lalu. Ia memproyeksi HRTA dapat menyentuh level 2.720 pada pekan ini.

Lalu, ia juga merekomendasikan saham PT TBS Energi Utama Tbk atau TOBA yang ditutup menguat 1,20 persen ke level 840 pada pekan lalu. Ia memproyeksikan TOBA dapat menyentuh level 1.040 pada pekan ini.

Catatan Redaksi: Berita ini tidak dibuat untuk merekomendasikan atau tidak merekomendasikan saham tertentu. Keputusan investasi sepenuhnya berada di tangan pembaca.

[Gambas:Video CNN]

(pta/pta)

Read Entire Article
| | | |