CNN Indonesia
Rabu, 24 Jun 2026 19:30 WIB
Ilustrasi. Kasus intoleransi laktosa ditemukan lebih banyak di Asia ketimbang benua lainnya. Bagaimana dengan di Indonesia? (iStockphoto/Elena Medoks)
Jakarta, CNN Indonesia --
Menurut sebuah studi, lima miliar orang dewasa di dunia (sekitar 68-70 persen) mengalami intoleransi laktosa. Namun angka ini jauh lebih tinggi di Asia Timur, terutama di China, Jepang, Korea, dan Vietnam, yakni 90-95 persen.
Menanggapi hal ini, Pakar Genetika Ekologi IPB Ronny Rachman Noor mengungkap intoleransi laktosa memang lebih umum terjadi di kalangan ras non-Kaukasia, termasuk orang Asia.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Penyebabnya, orang Asia cenderung tidak mengalami mutasi pada gen lactase persistence. Mutasi pada gen ini memungkinkan produksi enzim laktase tetap berlangsung hingga usia dewasa.
"Mutasi gen lactase persistence yang terjadi sekitar 7.500 tahun lalu di Eropa Utara, memungkinkan orang dewasa di sana mencerna laktosa dengan baik, sehingga ras Kaukasia cenderung memiliki angka intoleransi yang rendah, yaitu hanya 5-15 persen," ujar Ronny, seperti dikutip dari laman IPB University.
Mutasi gen ini belum menyebar luas di Benua Asia, Afrika, dan Amerika karena konsumsi susu belum lama dikenal di beberapa belahan dunia ini.
Intoleransi laktosa di Indonesia tergolong tinggi
Di Indonesia, intoleransi laktosa pada anak usia 3-5 tahun bisa mencapai 21,3 persen. Persentase ini bakal meningkat seiring bertambahnya usia. Adapun pada anak 6-11 tahun mencapai 57,8 persen.
Hal ini tak lepas dari tingginya persentase intoleransi laktosa di Asia Tenggara yang mencapai 85-98 persen.
"Tingginya angka tersebut menunjukkan konsumsi susu segar yang rendah, yang dapat menyebabkan kekurangan kalsium, vitamin D, dan protein pada anak dan lansia," ucap Ronny.
Ronny menambahkan, laktase non-persistence sebenarnya normal dialami saat anak sudah melewati masa menyusui, yakni ketika produksi enzim menurun.
Adapun menurut Cleveland Clinic, kondisi intoleransi laktosa umumnya ditandai dengan gejala sebagai berikut:
- Perut kembung.
- Gas pada usus.
- Mual dan muntah.
- Sakit perut dan kram.
- Perut berbunyi atau bergemuruh.
- Diare.
Berbagai gejala tersebut berasal dari laktosa yang tak tercerna dengan baik di usus besar. Adapun makanan butuh waktu 6-10 jam untuk mencapai usus besar setelah makan dan 24-36 jam untuk melewatinya.
Jadi, gejala intoleransi laktosa kemungkinan muncul hingga satu atau dua hari setelah seseorang mengonsumsi laktosa.
Menurut Ronny, berbagai gejala akibat intoleransi laktosa ini biasanya tidak berbahaya dan berbeda dengan alergi susu yang bisa menyebabkan anafilaksis.
Namun tetap saja, kondisi ini tetap bisa mengganggu kenyamanan dan kualitas hidup, karena bisa menyulitkan seseorang dalam aktivitas sehari-hari.
Lalu, apa yang bisa kita konsumsi?
Bagi penderita intoleransi laktosa, Ronny menyarankan untuk menghindari produk tinggi laktosa, seperti susu segar, krim, es krim, hingga keju lunak.
Solusinya, pilihlah produk rendah laktosa, bahkan bebas laktosa. Saat ini banyak beredar susu bebas laktosa di pasaran. Produk lainnya yang bebas laktosa, yakni susu A2, yogurt, dan keju keras seperti cheddar atau parmesan.
Saran lainnya, yakni mengonsumsi suplemen enzim laktase sebelum minum susu dan mencari sumber kalsium alternatif yang lezat dan menyehatkan, seperti ikan teri, tempe, tahu, sayuran hijau, kacang-kacangan, serta susu kedelai yang difortifikasi.
"Jadi, kebutuhan kalsium dan protein tetap terpenuhi tanpa perlu khawatir mengalami intoleransi," ucap Ronny.
(rti)
Add
as a preferred source on Google


















































