Jakarta, CNN Indonesia --
Ajang CNN Indonesia Leading Women Awards 2026 kembali memberi apresiasi terhadap kiprah perempuan-perempuan inspiratif Tanah Air yang memiliki kontribusi nyata dalam pembangunan. Digelar pada Selasa (5/5) malam, penghargaan ini menjadi panggung apresiasi bagi figur-figur perempuan tangguh dari berbagai sektor, termasuk penegakan hukum yang dikenal penuh tantangan.
Salah satu sosok yang mencuri perhatian adalah Mahayu Dian Suryandari, yang saat ini menjabat sebagai Atase Kejaksaan/Hukum di KBRI Singapura. Ia menerima penghargaan kategori Outstanding Legal Diplomatic Officer in International Law Cooperation and Cross Border Justice, sebuah pengakuan atas dedikasinya dalam memperkuat kerja sama hukum lintas negara.
Dalam sudut pandangnya, penghargaan tersebut bukan sekadar pencapaian pribadi. Mahayu menekankan bahwa apresiasi itu merepresentasikan kerja kolektif profesi dan perjuangan perempuan di bidang hukum.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Apa yang saya terima hari ini sesuatu yang di luar perkiraan saya. Saya pikir ini bukan karena saya saja, tapi ini adalah penghargaan kepada profesi kami, kepada wanita-wanita hebat yang sampai saat ini tetap tangguh menjalankan profesinya sebagai aparat penegak hukum," ujar Mahayu saat menerima penghargaan.
Bagi Mahayu, menjadi perempuan di sektor penegakan hukum bukanlah perjalanan yang mudah. Selain tuntutan profesionalisme yang tinggi, ia juga harus menghadapi tekanan, risiko, hingga ancaman yang kerap mengiringi tugas aparat penegak hukum, terlebih dalam konteks kerja sama internasional yang kompleks.
Namun, di balik kerasnya dunia hukum, Mahayu justru menyoroti satu nilai yang menurutnya kerap luput dari perhatian: empati. Ia percaya bahwa empati bukan kelemahan, melainkan kekuatan yang mampu memperkuat kualitas penegakan hukum itu sendiri.
Empati, menurutnya, menjadi fondasi penting dalam memahami konteks kasus, latar belakang individu, hingga dinamika sosial yang melingkupi persoalan hukum, terutama dalam kasus lintas batas negara yang melibatkan berbagai yurisdiksi dan kepentingan.
Peran Mahayu di Singapura sendiri tidak hanya sebatas diplomasi formal, tetapi juga menjembatani koordinasi penanganan perkara hukum yang melibatkan warga negara Indonesia di luar negeri. Dalam posisi tersebut, ia dituntut untuk mampu bernegosiasi, berkomunikasi lintas budaya, sekaligus menjaga kepentingan hukum Indonesia.
Penghargaan yang diterimanya juga sejalan dengan rekam jejak yang sebelumnya telah disorot, di mana Mahayu dikenal aktif dalam mendorong kerja sama hukum internasional dan memperkuat perlindungan WNI di luar negeri melalui pendekatan diplomasi hukum.
Selain Mahayu, dua jaksa perempuan lain juga menerima penghargaan dalam Leading Women Awards 2026, yakni Kepala Kejaksaan Negeri Purwakarta, Apsari Dewi dan Atase Kejaksaan pada KBRI Bangkok Kerajaan Tailan, Olivia Sembiring.
Ketiganya dinilai berhasil menunjukkan kepemimpinan di tengah kompleksitas dunia hukum. Kehadiran mereka menjadi simbol bahwa perempuan memiliki peran strategis dalam sistem penegakan hukum, sekaligus membuktikan bahwa integritas dan keberanian tidak mengenal batas gender.
(rea/rir)
Add
as a preferred source on Google


















































