CNN Indonesia
Jumat, 12 Jun 2026 10:30 WIB
Jembatan Gantung Hussaini atau Hussaini Suspension Bridge yang terletak di kawasan utara Pakistan. (iStockphoto/PisesTungittipokai)
Jakarta, CNN Indonesia --
Dari ribuan jembatan ekstrem yang tersebar di berbagai belahan bumi, terdapat satu infrastruktur yang secara konsisten menyandang predikat tidak resmi sebagai jembatan paling berbahaya di dunia.
Melansir Mirror, infrastruktur tersebut adalah Jembatan Gantung Hussaini (Hussaini Suspension Bridge) yang terletak di kawasan utara Pakistan.
Jembatan yang membentang di atas Sungai Hunza yang berarus deras ini terkenal karena embusan angin kencangnya yang ekstrem.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meski dicap mematikan, jembatan ini diakui sebagai mahakarya teknik sipil lokal dan kini justru bertransformasi menjadi magnet bagi para pemburu adrenalin dunia.
Jembatan sepanjang 635 kaki atau sekitar 193 meter ini pertama kali dibangun pada tahun 1968 oleh penduduk desa Hussaini dan Zarabad secara swadaya.
Tanpa menggunakan alat berat modern, mereka merakit jembatan ini murni dari material mentah berupa papan kayu dan kabel baja, yang seluruh strukturnya digantung dan ditopang oleh enam tali tambang utama di sepanjang bentangannya.
Tujuan awal pembangunan jembatan ini adalah sebagai jalur nadi utama untuk mengangkut komoditas logistik dan hewan ternak melintasi sungai. Setelah sempat hancur akibat tanah longsor dahsyat pada tahun 2010, jembatan ini dibangun kembali oleh warga lokal.
Keunikan sekaligus kengerian dari jembatan ini terletak pada desainnya. Jarak antara papan kayu satu dengan yang lain sengaja dibuat sangat renggang dan lowong.
Celah lebar ini sejatinya dirancang secara khusus untuk mengurangi getaran bergoyang yang dipicu oleh empasan angin badai di area lembah.
Karena karakteristik ekstrem inilah, majalah pariwisata bergengsi Conde Nast Traveller menobatkan Jembatan Hussaini sebagai salah satu jembatan paling berbahaya di dunia.
Mengingat tingginya risiko kecelakaan, setiap wisatawan yang datang dan berniat menyeberangi jembatan ini kini diwajibkan secara mutlak untuk mengenakan jaket pelampung (life jacket).
Langkah preventif ini diperketat setelah adanya insiden tragis pada Juli 2022. Saat itu, seorang mahasiswa asal wilayah Sindh dilaporkan tewas tenggelam setelah kehilangan keseimbangan dan jatuh dari jembatan ke dalam arus Sungai Hunza yang sangat kuat.
Pasca-tragedi tersebut, jembatan sempat ditutup total untuk proses investigasi dan renovasi massal. Otoritas setempat bersama komunitas lokal bergotong-royong melakukan pemutakhiran keamanan.
Papan-papan kayu lama yang sudah membusuk dan tidak rata diganti dengan material baru yang lebih kokoh, serta jalinan kabel baja pengikat dikencangkan ulang guna meminimalkan risiko kecelakaan serupa.
Meskipun menyisakan trauma, renovasi tersebut justru meningkatkan antusiasme para pelancong asing. Kolom ulasan di situs TripAdvisor dipenuhi oleh testimoni para petualang yang berhasil menyeberanginya.
"Jembatan yang sangat mendebarkan! Orang-orang yang memiliki kekuatan mental dan tidak takut ketinggian harus mencoba jembatan ini! Ini adalah sebuah tantangan nyali!" tulis salah satu wisatawan.
Pengunjung lain merinci bahwa dibutuhkan sekitar 400 langkah kaki untuk bisa sampai dari ujung jembatan ke ujung seberang. "Jembatan ini sekarang terasa kokoh dan aman. Namun, tindakan pencegahan ekstra harus tetap diambil saat menyeberang karena risiko jatuh secara tidak sengaja tetap ada. Silakan dicoba!" tulisnya.
Meski demikian, jembatan ini tetap menjadi momok menakutkan bagi sebagian orang. Salah satu pelancong mengaku sempat mundur karena tidak kuat menahan rasa takut.
"Awalnya saya menolak menyeberang, tapi sekarang saya benar-benar menyesali keputusan (mundur) itu. Terlihat sangat berbahaya, dan jelas bukan untuk orang dengan hati yang rapuh seperti saya, tapi jembatan itu luar biasa menantang," akunya di kolom komentar.
(wiw)
Add
as a preferred source on Google
















































