CNN Indonesia
Rabu, 21 Jan 2026 19:30 WIB
Ilustrasi turis asing saat berlibur ke Jepang. (AFP/FRED MERY)
Jakarta, CNN Indonesia --
Jepang mencetak rekor terbaru soal jumlah kunjungan turis asing terbanyak, dengan mencapai 42,7 juta orang sepanjang tahun 2025. Namun, jumlah turis China yang merupakan sumber pasar terbesar pariwisata Jepang justru anjlok pada tahun yang sama.
Sejarah baru ini diumumkan oleh Menteri Pariwisata Jepang, Yasushi Kaneko, pada Selasa (20/1). Ia mengatakan bahwa dengan adanya lonjakan wisatawan tahun lalu, Jepang semakin 'on track' dan optimistis mencapai target 60 juta wisatawan pada tahun 2030.
Ini menjadi tahun kedua berturut-turut Jepang menyambut gelombang besar wisatawan mancanegara. Pada tahun 2024, Negeri Sakura tersebut menyambut 36,87 juta wisatawan. Kemudian berlanjut pada tahun 2025, jumlah kunjungan turis semakin meroket hingga menyentuh 42,7 juta orang.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Melansir Independent, meningkatnya jumlah turis asing yang masuk ke Jepang juga berimbas pada sektor perekonomian di sana. Tahun 2025, para turis yang datang meningkatkan pendapatan pariwisata sampai 9,5 triliun yen atau sekitar Rp1 kuadriliun. Angka ini naik 8,1 triliun yen dibandingkan tahun sebelumnya.
Meskipun menyentuh rekor baru, pada tahun 2025, turis China ke Jepang menurun tajam, di mana pada Desember lalu, kunjungan wisatawan dari Negeri Tirai Bambu anjlok hingga 45 persen.
Anjloknya wisatawan China di Jepang tak lain karena ketegangan diplomatik yang memanas antar kedua negara, setelah China umumkan travel warning kepada warganya untuk tidak bepergian ke Jepang.
Ketegangan ini dipicu karena Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, mengatakan bahwa Jepang bisa ikut campur tangan ke tengah konflik antara China dan Taiwan. Kemudian China yang tak terima akan pernyataan Takaichi, kemudian melayangkan travel warning ke Jepang.
Melihat hubungan bilateral kedua negara yang masih belum membaik, Jepang memperkirakan kedatangan turis China masih akan terus menurun sampai bulan Februari 2026, atau setidaknya selama periode Tahun Baru Imlek.
"Sementara jumlah turis China pada bulan Desember menurun, kami menarik cukup banyak turis dari banyak negara dan wilayah lain untuk mengimbanginya. Kami juga berharap dan ingin memastikan bahwa wisatawan China akan kembali kepada kami sesegera mungkin," kata Yasushi Kaneko.
Kendati Jepang antusias menyambut lebih banyak wisatawan, tetapi dalam waktu yang bersamaan ada juga kekhawatiran soal pariwisata berlebih atau overtourism.
Dalam beberapa kasus, ditemukan perilaku wisatawan yang tak pantas dan menyinggung budaya setempat, sehingga terjadi gesekan dengan warga lokal di sana. Warga lokal banyak mengeluhkan kemacetan lalu lintas, antrean yang panjang, sampai terganggunya aktivitas sehari-hari.
Sejak saat itu, pihak berwenang mulai mendorong wisatawan ke daerah lain agar tidak menumpuk di satu lokasi, sekaligus untuk menggerakkan perekonomian di daerah pedesaan. Mereka juga tahun lalu membentuk sebuah badan untuk mengatasi masalah pariwisata di Jepang.
(ana/wiw)

















































