Jimly: Pernyataan Saiful Mujani Tak Perlu Ditanggapi Serius

2 hours ago 3

Jakarta, CNN Indonesia --

Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Jimly Asshiddiqie menilai pernyataan Saiful Mujani terkait wacana menjatuhkan Presiden Prabowo tidak perlu ditanggapi secara serius oleh pemerintah.

Menurutnya, pernyataan tersebut mencerminkan cara bertutur dan tata bahasa yang kurang terukur dari Mujani.

"Biar aja, cara bertutur dan tata bahasa Sjaiful Muzani memang kurang terukur. Mudah dianggap provokatif," kata Jimly saat dihubungi, Jumat (10/4).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pakar hukum tata negara ini lalu mengkritik substansi pernyataan Mujani yang dinilai tidak sejalan dengan konstitusi.

Menurutnya, pergantian presiden telah diatur dalam konstitusi melalui mekanisme impeachment.

"Dia tidak percaya pada mekanisme yang sudah diatur di konstitusi, yaitu impeachment, tapi malah mengimpikan melalui people's power. Biar saja jadi pelajaran bagi Syaiful," katanya.

Ia mengatakan pernyataan Mujani itu juga tidak akan berpengaruh, sebab suara yang menentang juga berimbang.

"Presiden dan timnya juga tidak perlu tanggapi terlalu serius, santai aja karena tidak akan berpengaruh. Malah suara rasional yang menolaknya juga berimbang. Pemerintah tidak perlu respons terlalu serius, biar tidak semakin memperluas ketegangan antara negara vs society," katanya.

Di sisi lain, Jimly juga mengingatkan pemerintah untuk tidak bersikap angkuh dalam merespons perasaan yang berkembang di masyarakat.

Menurutnya, jika pemerintah bersikap menantang, kemarahan di masyarakat akan semakin meluas.

"Perlu komunikasi yang lebih lembut dari presiden sendiri. Kurangilah pidato yang meledak-ledak tapi tidak terukur. Belajarlah dari manajemen kepemimpinan Pak Harto yang lebih lembut dengan tutur bahasa yang terukur," katanya

Seskab Teddy Indra Wijaya sebelumnya juga sudah merespons pernyataan Saiful Mujani mengenai ajakan menggulingkan pemerintah. Ia mengaku belum mengetahui pernyataan Mujani itu.

"Saya masih banyak sekali kerjaan, saya belum lihat beliau bicara apa," kata Teddy di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Selasa (7/4).

Selain dirinya, ia menyebut Presiden RI Prabowo Subianto juga sibuk dengan urusan yang lebih penting. Ia mengatakan Prabowo berfokus pada hal-hal yang lebih strategis.

"Apalagi bapak presiden, bapak presiden ngurusin hal besar, lagi fokus dg hal hal yg lebih strategis," ucap dia.

Sementara itu, Saiful Mujani menyatakan pernyataannya yang menyerukan konsolidasi untuk menjatuhkan Presiden Prabowo Subianto bukanlah bentuk makar, namun bagian dari sikap politik

"Pertanyaannya apakah ucapan saya itu bisa disebut makar? Saya tegaskan itu bukan makar, tapi political engagement, yakni sikap politik atau sikap yang dinyatakan tentang isu politik di hadapan orang banyak. Politiknya dalam acara itu terutama berkaitan dengan kinerja Presiden Prabowo," kata Mujani dalam keterangan tertulis.


Ia menjelaskan sikap politik berada satu tingkat di bawah partisipasi politik atau tindakan politik. Partisipasi politik, kata dia, adalah inti dari demokrasi.

Mujani mengatakan tidak ada demokrasi tanpa partisipasi politik.

"Partisipasi politik atau tindakan yang ditujukan untuk kepentingan umum bentuknya banyak. Misalnya ikut memilih dalam pemilu, ikut kampanye, ikut nyumbang partai atau calon, ikut aksi politik seperti demonstrasi, mogok, sabotase, dan lain-lain, yang dilakukan secara damai. Aksi menurunkan presiden secara damai adalah partisipasi politik. Itu demokrasi," ujarnya.

(fra/yoa/fra)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
| | | |