Kapan Musim Hujan Kembali Guyur Indonesia? Ini Prediksinya

3 hours ago 6

Jakarta, CNN Indonesia --

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan puncak musim kemarau di sebagian wilayah Indonesia berlangsung hingga akhir Oktober. Lantas, kapan musim hujan mulai mengguyur Indonesia?

Menurut Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan, musim hujan akan tiba setelah puncak musim kemarau yang terjadi pada Agustus hingga 2026. Ia memprediksi musim hujan akan kembali mengguyur Tanah Air pada Oktober 2026.

"Pada umumnya musim kemarau tahun 2026 di Indonesia akan berakhir di sekitar pertengahan bulan Oktober," ujar Ardhasena dalam konferensi pers secara daring di Jakarta pada akhir Juli lalu.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Musim hujan akan tiba secara bertahap di sejumlah wilayah Indonesia usai terlepas dari musim kemarau, katanya. Menurutnya, musim hujan akan lebih dahulu tiba di wilayah bagian barat.

Lebih lanjut, musim hujan diprediksi akan mulai merata dan membasahi beberapa wilayah lain di Indonesia pada November. Wilayah tersebut meliputi sebagian besar Pulau Jawa.

Menurut Ardhasena, kondisi ini terlihat dari peta prakiraan iklim yang menunjukkan warna kuning pada bulan Oktober dan November. Warna ini menandai bahwa musim hujan akan mulai tiba.

"Bulan Oktober dan November kita mulai muncul warna kuning yang menunjukkan bahwa hujan di wilayah Indonesia mulai normal walaupun juga kita lihat di bulan November itu hujan di Pulau Jawa misalkan, masih di bawah normal, tapi hujannya sudah mulai datang dan masuk ke wilayah Jawa," jelasnya.

Ardhasena menjelaskan bahwa musim hujan 2026 terjadi bersamaan dengan fenomena El Nino. Pasalnya, fenomena yang memicu kondisi lebih kering ini diprediksi bertahan hingga awal 2027 dan baru akan mencapai puncaknya pada bulan Desember 2026.

Meski begitu, ia menyebut El Nino tidak akan terlalu berpengaruh pada musim hujan. Dampak fenomena ini disebut akan sangat terasa ketika memasuki puncak musim kemarau.

"Dampak El Nino di Indonesia itu juga sangat bergantung dengan bagaimana kondisi panasnya laut di sekitar wilayah Indonesia. Jadi tidak serta-merta dampaknya akan persis sama dengan tahun-tahun sebelumnya," tutur Ardhasena.

"Tidak ada satu kejadian El Nino yang selalu sama dengan El Nino tahun sebelumnya,maupun juga tidak ada dampak yang selalu sama dengan kejadian El Nino-El Nino selanjutnya," imbuhnya.

Sementara itu, puncak musim kemarau diperkirakan masih berlangsung hingga akhir Oktober di sebagian wilayah Indonesia. Menurut BMKG, durasi musim kemarau tahun ini berlangsung antara tiga hingga tujuh bulan, tergantung wilayahnya.

Musim kemarau berpotensi lebih panjang pada 437 Zona Musim (ZOM) yang mencakup 48,77 persen luas daratan Indoensia.

"Puncak musim kemarau diperkirakan masih berlangsung hingga akhir Oktober 2026," kata Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani dalam keterangan di laman resmi BMKG, Kamis (17/8).

Menurut Faisal, upaya pencegahan, kesiapsiagaan, dan mitigasi perlu terus diperkuat hingga memasuki periode musim hujan. Terlebih, saat ini di sejumlah daerah masih mengalami kebakaran hutan dan lahan.

Kondisi musim kemarau ini, katanya, turut dipengaruhi oleh fenomena El Nino sangat kuat yang masih berpotensi meningkatkan risiko karhutla hingga beberapa pekan ke depan.

Menurut BMKG, pada periode Dasarian III September hingga Dasarian II Oktober 2026, curah hujan di sebagian besar wilayah Indonesia diprakirakan masih berada pada kategori rendah hingga menengah, yakni sekitar 0-150 mm per dasarian.

Kondisi ini menunjukkan bahwa pasokan uap air untuk mendukung pembentukan awan hujan masih relatif terbatas, salah satunya berkaitan dengan pengaruh El Nino kategori sangat kuat yang cenderung mengurangi suplai kelembapan ke wilayah Indonesia sehingga kondisi kering masih berpotensi berlanjut di sejumlah wilayah.

(nad/dmi)

Read Entire Article
| | | |