Kemenkes Catat 23 Kasus Hantavirus di Indonesia Sejak 2024

2 hours ago 8

CNN Indonesia

Sabtu, 09 Mei 2026 06:40 WIB

Kemenkes catat 23 kasus Hantavirus di Indonesia. Pakar tegaskan virus ini murni dari tikus dan bukan jenis Andes yang menular antarmanusia. Ilustrasi. Sejak 2024 hantavirus sudah masuk Indonesia. (iStockphoto/Md Saiful Islam Khan)

Jakarta, CNN Indonesia --

Hantavirus bukanlah pendatang baru dalam peta penyakit menular di Indonesia. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat sebanyak 23 kasus konfirmasi penyakit virus Hanta telah ditemukan di tanah air sepanjang periode 2024 hingga minggu ke-16 tahun 2026.

Kasus positif tersebut tersebar di sembilan provinsi. DKI Jakarta dan DI Yogyakarta menjadi wilayah dengan temuan terbanyak, yakni masing-masing enam kasus. Diikuti oleh Jawa Barat dengan lima kasus, sementara Kalimantan Barat, Sulawesi Utara, NTT, Jawa Timur, Sumatera Barat, dan Banten masing-masing melaporkan satu kasus.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Secara kumulatif, terdapat 251 kasus suspek yang dipantau. Dari jumlah tersebut, 23 dinyatakan positif, 221 negatif, empat masih dalam tahap pemeriksaan, dan tiga lainnya tidak dapat diambil spesimennya.

Bukan virus jenis 'Andes'

Pakar infeksi tropik Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) sekaligus Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, Dominicus Husada, menegaskan bahwa hantavirus yang ditemukan di Indonesia berbeda dengan virus Andes. Belakangan, virus Andes memang tengah menjadi perbincangan hangat akibat temuan kasus di kapal pesiar MV Hondius.

"Virus Andes ini tidak ada di Indonesia. Kita belum pernah menemukannya di sini," ujar Dominicus dalam media briefing IDAI, Jumat (8/5).

Ia menjelaskan bahwa penularan hantavirus di Indonesia sejauh ini murni berasal dari hewan pengerat, seperti tikus yang terinfeksi, bukan antarmanusia. Dominicus menekankan bahwa hantavirus sudah lama dikenal dalam dunia medis dan bukan merupakan virus baru.

Bagaimana penularannya?

Risiko penularan umumnya terjadi melalui partikel virus dari urine, kotoran, atau air liur tikus yang terhirup oleh manusia, terutama di ruang tertutup dengan sirkulasi udara yang buruk.

"Penularan biasanya melalui partikel virus yang ada di air kencing, kotoran, atau liur tikus," jelas Dominicus.

Berdasarkan data historis, Indonesia sebenarnya sudah memantau virus ini sejak lama. Pada periode 2013-2016, melalui kerja sama penelitian dengan Amerika Serikat, tercatat ada 39 kasus hantavirus di Indonesia.

"Jadi sekali lagi, ini bukan barang baru. Kasusnya sudah pernah didata di beberapa tempat," tambahnya.

Meski masyarakat diminta waspada, Dominicus menilai risiko penyebaran hantavirus secara luas di Indonesia masih relatif rendah. Masyarakat tidak perlu merasa panik berlebihan seperti saat menghadapi pandemi Covid-19.

Hal ini dikarenakan virus Andes yang ditemukan di Amerika Selatan memiliki karakter unik, yakni dapat menular antarmanusia melalui kontak erat berkepanjangan, karakter yang tidak ditemukan pada jenis hantavirus di Indonesia.

Langkah pencegahan utama yang bisa dilakukan adalah dengan memutus rantai kontak dengan tikus atau celurut. Menjaga kebersihan rumah dan lingkungan sekitar menjadi kunci agar tidak menjadi sarang hewan pengerat.

Saat ini, pemerintah terus melakukan pemantauan melalui Sistem Kewaspadaan Dini dan Respon (SKDR), mengawasi pelaku perjalanan dari negara terjangkit, serta menggalakkan edukasi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) kepada masyarakat.

(anm/tis)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
| | | |