Kemenperin Prediksi Makanan Kemasan Makin Mahal Imbas Perang Iran

2 hours ago 2

Jakarta, CNN Indonesia --

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mengungkapkan harga makanan dan minuman kemasan berpotensi naik imbas perang di Timur Tengah.

Pasalnya, konflik akan memicu kenaikan biaya bahan baku kemasan plastik berbasis minyak bumi.

Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Industri Agro Kementerian Perindustrian Putu Juli Ardika mengatakan industri makanan dan minuman lebih terdampak dari sisi kemasan dibandingkan bahan produknya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Yang banyak dan ada dampaknya di industri kami di makanan dan minuman itu adalah kemasannya. Biasanya dari plastik, dan plastik ini petroleum based," ujar Putu dalam acara Buka Bersama Kementerian Perindustrian, Kamis (12/3).

Ia menjelaskan kemasan plastik tersebut berkaitan erat dengan industri petrokimia yang berada di bawah Direktorat Jenderal Industri Kimia, Farmasi, dan Tekstil (IKFT). Jika terjadi kenaikan biaya di sektor tersebut, dampaknya dapat berlipat pada industri makanan dan minuman.

"Salah satu adalah di air dalam kemasan, itu yang mahal bukan airnya, tapi kemasannya," kata dia.

Ia menambahkan kenaikan biaya di industri petrokimia bisa berdampak lebih besar pada harga produk akhir. Misalnya, jika biaya kemasan naik 10 persen, dampaknya pada produk bisa mencapai sekitar 60 persen.

"Kalau di sana (IKFT) berdampak 10 persen, di kita bisa 60 persen. Kalau di sana 50 persen, di sini bisa di atas 50 persen," jelasnya.

Oleh sebab itu, Kemenperin berencana berkoordinasi dengan Direktorat Jenderal IKFT untuk mencari langkah mitigasi guna menekan dampak kenaikan biaya kemasan terhadap industri makanan dan minuman.

Putu mengatakan potensi kenaikan harga terutama dapat terjadi pada minuman dalam kemasan, termasuk air minum dalam kemasan (AMDK). Namun dampak tersebut belum terasa saat ini karena produk yang beredar di pasar masih berasal dari stok lama.

Untuk kebutuhan Lebaran, ia memastikan pasokan produk makanan dan minuman yang sudah didistribusikan ke pasar dalam kondisi aman.

"Untuk hari Idulfitri ini semuanya sudah terdistribusi, sudah aman. Jadi tidak usah khawatir," imbuhnya.

Meski demikian, ia menilai kondisi berbeda terjadi pada produk air minum dalam kemasan yang biasanya tidak disimpan dalam jumlah besar oleh distributor karena volumenya yang besar. Distribusi produk tersebut umumnya disesuaikan dengan kebutuhan pasar.

"Karena bulky ya, volumenya gede gitu, itu biasanya disuplai sesuai dengan kebutuhannya. Jadi dia kan nggak mau inventory, stok sesuai dengan kebutuhannya. Nah itu nanti, itu di samping transportnya kan tadi kemasan plastik. Itu nanti kita koordinasikan dengan IKFT," pungkasnya.

[Gambas:Video CNN]

(ldy/sfr)

Add as a preferred
source on Google
Read Entire Article
| | | |