Jakarta, CNN Indonesia --
Laporan terbaru Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengungkap dunia saat ini memasuki era 'kebangkrutan air'. Pasalnya, banyak wilayah yang kini tak lagi mampu pulih dari krisis air berkepanjangan.
Menurut laporan PBB wilayah-wilayah di seluruh dunia mengalami kekurangan air yang parah. Kabul, ibu kota Afghanistan, berpotensi menjadi kota modern pertama yang kehabisan air. Sementara itu, Kota Meksiko 'amblas' dengan laju sekitar 20 inci per tahun akibat penarikan air berlebihan dari akuifer raksasa di bawah jalan-jalannya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di bagian barat daya Amerika Serikat, negara-negara bagian terlibat dalam pertikaian berkelanjutan mengenai cara membagi pasokan air yang semakin menipis dari Sungai Colorado yang dilanda kekeringan.
Menurut laporan yang diterbitkan pada Selasa (20/1), oleh Universitas Perserikatan Bangsa-Bangsa, situasi global saat ini begitu parah sehingga istilah seperti "krisis air" atau "kekurangan air" tidak cukup untuk menggambarkan skalanya. Laporan ini didasarkan pada studi yang diterbitkan dalam jurnal Water Resources.
"Jika Anda terus menyebut situasi ini sebagai krisis, Anda menyiratkan bahwa itu bersifat sementara. Ini adalah guncangan. Kita dapat memitigasinya," kata Kaveh Madani, Direktur Institut Air, Lingkungan, dan Kesehatan Universitas PBB, dan penulis laporan tersebut, mengutip CNN, Rabu (21/1).
Ia mengatakan bahwa dalam menghadapi kebangkrutan air, meskipun upaya perbaikan dan mitigasi tetap penting dilakukan sejauh mungkin, masyarakat juga perlu beradaptasi dengan kenyataan baru, yakni kondisi yang lebih ketat dibandingkan sebelumnya.
Konsep kebangkrutan air bekerja dengan cara sederhana. Meskipun alam menyediakan 'pendapatan' berupa hujan dan salju, dunia saat ini menggunakan air jauh lebih banyak daripada yang diterimanya.
Kondisi ini terjadi karena air diekstraksi dari sungai, danau, rawa, serta akuifer bawah tanah dengan kecepatan yang melampaui kemampuan alam untuk memulihkannya. Akibatnya, manusia berada dalam kondisi utang air.
Perubahan iklim memperparah situasi tersebut. Panas ekstrem dan kekeringan mengurangi jumlah air yang tersedia dan meningkatkan tekanan terhadap sumber daya air. Hasilnya adalah sungai dan danau yang menyusut, rawa-rawa yang mengering, cadangan air tanah yang menurun, tanah yang retak, lubang ambles, dan gurunisasi.
Data dalam laporan tersebut sangat mengkhawatirkan. Lebih dari 50 persen danau besar di dunia telah kehilangan air sejak 1990. Sekitar 70 persen cadangan air tanah utama mengalami penurunan jangka panjang.
Dalam 50 tahun terakhir, area rawa-rawa seluas Uni Eropa telah hilang. Sementara itu, gletser di seluruh dunia telah menyusut sekitar 30 persen sejak 1970.
Bahkan di wilayah yang sistem airnya relatif tidak terlalu tertekan, pencemaran tetap mengurangi ketersediaan air yang layak untuk dikonsumsi.
"Banyak wilayah hidup melampaui batas kemampuan hidrologisnya, dan saat ini tidak mungkin untuk kembali ke kondisi yang pernah ada," ungkap Madani.
Menurut laporan tersebut hampir 4 miliar orang menghadapi kelangkaan air setidaknya selama satu bulan setiap tahun. Alih-alih mengakui masalah dan menyesuaikan pola konsumsi, air dianggap sebagai hal yang diberikan begitu saja.
Madani merujuk pada kota-kota seperti Los Angeles, Las Vegas, dan Tehran, di mana perluasan dan pembangunan terus didorong meskipun pasokan air terbatas.
"Semua tampak baik-baik saja hingga akhirnya tidak lagi, dan saat itu sudah terlambat," kata Madani.
Laporan tersebut mencatat bahwa beberapa wilayah mengalami dampak yang lebih parah. Timur Tengah dan Afrika Utara menghadapi tekanan air yang tinggi dan kerentanan iklim yang ekstrem.
Sementara itu, sebagian wilayah Asia Selatan mengalami kekurangan air kronis akibat pertanian yang bergantung pada air tanah dan pertumbuhan populasi perkotaan yang terus meningkat.
Menurut laporan tersebut, wilayah Barat Daya AS juga menjadi titik panas lainnya. Madani menyoroti Sungai Colorado, di mana perjanjian pembagian air didasarkan pada kondisi lingkungan yang kini tidak lagi ada.
Ia mengatakan bahwa kekeringan telah membuat banyak sungai menyusut dan kondisi tersebut bukanlah krisis sementara, melainkan keadaan baru yang bersifat permanen, dengan ketersediaan air yang kini lebih sedikit dibandingkan sebelumnya.
Temuan ini mengkhawatirkan, tetapi menyadari krisis air dapat membantu negara-negara beralih dari pemikiran darurat jangka pendek ke strategi jangka panjang untuk mengurangi kerusakan yang tidak dapat dibalikkan.
Laporan tersebut menyerukan berbagai tindakan, mulai dari transformasi sektor pertanian yang saat ini menjadi pengguna air terbesar di dunia melalui perubahan jenis tanaman dan peningkatan efisiensi irigasi.
Selain itu, laporan juga mendorong peningkatan pemantauan sumber daya air dengan memanfaatkan kecerdasan buatan dan teknologi pemantauan jarak jauh, pengurangan polusi, serta penguatan perlindungan terhadap lahan basah dan air tanah.
Penulis laporan juga menulis bahwa air dapat menjadi "jembatan di dunia yang terfragmentasi," melampaui perbedaan politik.
"Kami melihat semakin banyak negara yang menyadari nilai dan pentingnya hal ini, dan itulah yang membuat saya optimis," kata Madani.
"Panggilan tindakan dalam laporan ini dengan tepat berfokus pada pemulihan jangka panjang daripada sekadar mengatasi krisis air secara darurat," tulis Richard Allan, seorang profesor ilmu iklim di Universitas Reading yang tidak terlibat dalam penelitian tersebut.
Ia mengatakan bahwa menangani krisis iklim juga akan sangat penting untuk memastikan ketersediaan air yang cukup bagi manusia dan ekosistem.
Jonathan Paul, seorang profesor geosains di Royal Holloway, Universitas London, mengatakan laporan tersebut "mengungkap dengan jelas, tanpa ambiguitas, perlakuan buruk manusia terhadap air." Namun, ia percaya bahwa konsep kebangkrutan air global "berlebihan", meskipun banyak wilayah mengalami tekanan air yang parah.
"Dengan mengakui kenyataan krisis air, kita akhirnya dapat membuat pilihan sulit yang akan melindungi masyarakat, ekonomi, dan ekosistem. Semakin lama kita menunda, semakin dalam defisitnya," tutup Madani.
(wpj/dmi)

















































