Marak Penipuan dan Getok Harga, Turis Mulai Khawatir Kunjungi Thailand

3 hours ago 1

CNN Indonesia

Jumat, 06 Feb 2026 09:45 WIB

Peringkat pertama kekhawatiran yang dikeluhkan para turis asing saat di Thailand adalah masalah keamanan, terutama praktik penipuan yang mengintai mereka. Ilustrasi turis asing yang berkunjung ke Thailand. (AFP/JACK TAYLOR)

Jakarta, CNN Indonesia --

Thailand pernah menjadi magnet pariwisata nomor satu di Asia Tenggara. Namun, tahun lalu Negeri Gajah Putih tersebut kehilangan daya pikatnya karena sederet keluhan turis asing.

Pada tahun 2025, Thailand mengalami penurunan kedatangan internasional. Tercatat 32,9 juta turis asing yang datang ke negara tersebut tahun lalu, angka ini merosot 7,2 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

China, Malaysia, India, dan Korea Selatan disebut sebagai pasar pariwisata terbesar di Thailand pada tahun 2025. Namun sebuah survei menunjukkan, wisatawan khususnya yang berasal dari Asia Timur (termasuk China dan Korsel) memiliki kekhawatiran tinggi terhadap tingkat keamanan di Negeri Gajah Putih.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Bukan hanya wisatawan Asia Timur, tetapi turis dari Asia Tenggara juga mengeluhkan hal yang sama. Sementara itu, wisatawan Eropa diklaim sebagai kelompok yang paling sedikit mengkhawatirkan hal tersebut ketika melancong ke Thailand.

Seperti dilansir dari VN Express, Dewan Pariwisata Thailand telah melakukan survei kepada 302 turis asing pada kuartal keempat tahun 2025. Hasilnya, terungkap beberapa masalah yang dihadapi mereka selama berkunjung di Thailand.

Peringkat pertama kekhawatiran yang dikeluhkan para turis adalah masalah keamanan, terutama praktik penipuan yang mengintai mereka.

Penipuan ini termasuk getok harga (gouging) tarif taksi, agen tur yang curang atau gadungan, sampai harga untuk turis yang dibuat lebih mahal dibandingkan warga lokal.

Disusul dengan masalah kedua yaitu hambatan komunikasi dengan masyarakat setempat. Keterbatasan penggunaan bahasa asing membuat turis lebih sulit berkomunikasi selama di Thailand.

Para turis juga mengeluhkan pengemudi taksi yang hanya mau menjemput penumpang dengan tarif tetap sejak awal (tidak mau menggunakan meteran taksi). Tak jarang pengemudi yang seenaknya menggetok harga tinggi meskipun jarak perjalanannya relatif dekat.

Masalah selanjutnya adalah mereka melihat adanya potensi eksploitasi karena ketidaktahuan turis. Adapun kemungkinan permintaan suap (uang damai) oleh oknum petugas atau pejabat setempat, apabila turis terlibat masalah selama di Thailand

Selain itu, polusi udara akibat partikel kecil yang berbahaya (disebut PM2.5) juga menjadi kekhawatiran. Di kota-kota besar Thailand, polusi udara bahkan bisa mencapai level tinggi.

Sementara itu, di antara sejumlah keluhan tersebut, masalah yang paling tidak dikhawatirkan oleh turis adalah kemungkinan serangan fisik sampai penculikan yang meminta uang tebusan.

(ana/wiw)

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
| | | |