CNN Indonesia
Kamis, 05 Feb 2026 11:00 WIB
Ilustrasi. Mengenal istilah pedofilia yang bisa dialami anak-anak. (iStockphoto/liebre)
Jakarta, CNN Indonesia --
Memahami istilah pedofilia sekaligus mengetahui cara pencegahannya menjadi langkah awal penting untuk melindungi anak dari risiko kekerasan seksual.
Mengutip Psychology Today, pedofilia adalah ketertarikan seksual yang menetap terhadap anak-anak yang belum memasuki masa pubertas, umumnya berusia 13 tahun ke bawah.
Dalam dunia psikologi, pedofilia termasuk dalam kelompok paraphilia, yakni kondisi ketika dorongan seksual seseorang tertuju pada objek, situasi, atau individu yang dianggap tidak lazim.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pedofilia juga berbeda dengan tindakan kekerasan seksual sesaat. Diagnosis pedophilic disorder baru dapat ditegakkan apabila dorongan seksual tersebut muncul secara intens dan berulang setidaknya selama enam bulan, kemudian disertai tindakan nyata atau menimbulkan tekanan psikologis serta gangguan fungsi sosial pada penderitanya.
Tidak semua pelaku kekerasan seksual terhadap anak adalah pedofil, dan tidak semua orang dengan pedofilia melakukan kejahatan. Namun demikian, risiko terhadap anak tetap nyata, terutama karena pelaku sering kali berasal dari lingkungan terdekat korban.
Pelaku sering berasal dari orang terdekat
Salah satu fakta paling mengkhawatirkan, pelaku kekerasan seksual terhadap anak umumnya adalah orang yang dikenal korban. Mulai dari anggota keluarga, kerabat, guru, pelatih, hingga figur dewasa lain yang berada dalam posisi dipercaya.
Pelaku biasanya tidak langsung melakukan tindakan seksual. Mereka kerap membangun relasi terlebih dahulu, menunjukkan perhatian berlebih, memberi hadiah, atau menciptakan situasi agar bisa berdua dengan anak tanpa pengawasan orang dewasa lain.
Kondisi inilah yang membuat banyak kasus sulit terdeteksi sejak awal. Lingkungan sekitar sering kali merasa aman dan tidak menaruh kecurigaan.
Pedophilic disorder telah lama diklasifikasikan sebagai gangguan psikologis dan bukan sesuatu yang dipilih secara sadar. Penyebab pastinya belum sepenuhnya dipahami, tetapi sejumlah penelitian mengaitkannya dengan trauma masa kecil, pengalaman kekerasan seksual, hingga kemungkinan perbedaan neurologis.
Meski demikian, risiko anak menjadi korban dapat ditekan melalui pencegahan yang tepat dan keterlibatan aktif orang dewasa.
Melansir berbagai sumber, berikut sejumlah langkah penting yang dapat dilakukan orang tua dan orang dewasa untuk mencegah anak menjadi korban kekerasan seksual:
1. Kenalkan anatomi tubuh kepada anak
Mengutip Healthy Children, orang tua dianjurkan mengenalkan anak pada nama asli bagian tubuhnya serta menekankan bahwa membicarakan tubuh adalah hal yang wajar. Jelaskan pula siapa saja yang boleh melihat atau menyentuh bagian pribadi mereka.
2. Utamakan keselamatan anak di atas segalanya
Menukil Kidpower, jika muncul tanda perilaku mencurigakan, rasa tidak nyaman, atau laporan dari anak, orang dewasa perlu berani bertindak dan melapor. Keselamatan anak harus diutamakan, meski situasinya terasa canggung atau melibatkan orang yang dihormati.
3. Kenali siapa saja yang berinteraksi dengan anak
Jangan langsung percaya hanya karena seseorang berasal dari sekolah, komunitas, atau lembaga keagamaan. Waspadai orang dewasa yang memberi perhatian berlebihan, sering ingin berdua dengan anak, atau enggan bersikap terbuka kepada orang tua.
4. Dengarkan anak dan ajarkan batasan serta rahasia yang tidak aman
Anak perlu memahami bahwa tidak semua rahasia harus disimpan. Orang tua disarankan membangun komunikasi terbuka, mendengarkan tanpa menghakimi, dan menegaskan bahwa anak boleh bercerita meski merasa takut atau bersalah.
5. Latih anak menjaga keselamatannya
Ajarkan anak mengenali sentuhan yang membuat tidak nyaman, berani berkata tidak, menjauh dari situasi berisiko, dan segera melapor kepada orang dewasa tepercaya. Latihan sederhana dan sesuai usia dapat membantu anak lebih siap menghadapi situasi tidak aman.
(nga/tis)

















































