Jakarta, CNN Indonesia --
Menteri Koperasi (Menkop) Ferry Juliantono mengungkapkan prinsip koperasi di Indonesia telah sesuai dengan nilai islam, yakni dibentuk berdasarkan semangat kekeluargaan, gotong royong, sampai kebersamaan.
Ferry menyampaikan semula praktik dan sistem koperasi adalah ekonomi kerakyatan. Namun, ketika pemerintah dipaksa menandatangani kerja sama dengan International Monetary Fund (IMF) pada akhir tahun 90-an, justru berubah menjadi dengan nilai individualistik, serakah, dan materialistis.
"Dalam kurun berapa tahun belakangan ini membuat kita semua menjadi seperti hidup di tengah-tengah situasi yang kayaknya bukan Indonesia banget gitu," ujar Ferry dalam acara Sarasehan 99 Ekonom Syariah Indonesia 2026 di Auditorium Menara Bank Mega, Jakarta Selatan, Selasa (24/2).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Setelah intervensi IMF, Ferry menyebut sistem koperasi di Indonesia dikembalikan ke mekanisme pasar, besar, dan berfokus pada simpan pinjam.
"Kemudian baru setelah Prabowo jadi Presiden kemarin, diingatkan untuk kembali ke semangat koperasi dan itu memang Prabowo menyampaikan koperasi harus ambil peran," imbuhnya.
Kemudian, ia menyebut koperasi pada awalnya dibentuk untuk bergerak di sektor produksi, distribusi, industri dan perkreditan setelah mempelajari dari arsip.
Bahkan, Ferry menyebut istilah simpan pinjam pada koperasi tidak ada, tetapi koperasi di sektor perkreditan.
"Simpan pinjam ini sebenarnya bentuk mempertahankan diri dari bersaing dengan pelaku pasar yang besar dalam arena yang tidak adil dan diserahkan mekanisme pasar. Sekarang balik lagi ke khitahnya," ungkap Ferry.
(fln/sfr)


















































