Jakarta, CNN Indonesia --
Indonesia tengah beregerak menuju musim kemarau, namun Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperingatkan hujan lebat hingga sangat lebat masih berpotensi mengguyur sebagian besar wilayah dalam sepekan ke depan.
Menurut BMKG sejumlah faktor jadi pemicu hujan lebat di beberapa wilayah. Di antaranya adalah aktivitas sejumlah gelombang atmosfer seperti Rossby Ekuatorial, Kelvin, dan Mixed Rossby-Gravity (MRG) yang terpantau melintasi sebagian wilayah Indonesia.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Gelombang atmofser tersebut berperan dalam memodulasi proses konvektif pada skala yang lebih luas, sehingga mendukung pertumbuhan awan hujan di beberapa wilayah," tulis BMKG dalam laman resminya, Senin (4/5).
Selain itu, fenomena Madden-Julian Oscillation (MJO) juga diprediksi masih berada di fase 2 (Indian Ocean). Fenomena ini berkontribusi mendorong pembentukan awan hujan di wilayah barat Indonesia, termasuk pesisir barat Sumatra, sebagian Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, hingga Papua.
BMKG juga memonitor pergerakan Bibit Siklon Tropis 92W yang berada di Samudra Pasifik utara Papua dengan kecepatan angin maksimum sebesar 15 knot dan tekanan udara minimum sebesar 1008 hPa, dengan arah gerak ke barat.
"Kondisi ini dapat meningkatkan potensi pembentukan awan hujan di sekitar sirkulasi siklonik dan di sepanjang daerah konvergensi atau konfluensi tersebut," ujar BMKG.
BMKG memprakirakan pada periode 5-7 Mei 2026, sejumlah provinsi berstatus siaga, yang artinya berpotensi mengalami hujan lebat hingga sangat lebat yang dapat disertai kilat dan angin kencang.
Provinsi-provinsi tersebut meliputi Sumatra Utara, Sumatra Selatan, Kepulauan Bangka Belitung, Banten, Jawa Tengah, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Maluku Utara, Maluku, Papua Tengah, Papua Pegunungan, dan Papua.
Kemudian, memasuki periode 8-11 Mei, status siaga menyempit menjadi Aceh, Sulawesi Barat, dan Papua Pegunungan. Namun demikian, hujan dengan intensitas sedang hingga lebat tetap perlu diwaspadai di sebagian besar Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, hingga Papua.
"Dengan mempertimbangkan dinamika atmosfer yang masih signifikan dalam beberapa hari kedepan, BMKG mengimbau masyarakat dan para pemangku kepentingan untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem yang dapat memicu bencana hidrometeorologi," kata BMKG.
(dmi/dmi)
Add
as a preferred source on Google


















































