Jakarta, CNN Indonesia --
Duta Besar Pakistan untuk Indonesia Zahid Hafeez Chaudhri buka suara soal nota kesepahaman (MoU) Amerika Serikat dan Iran yang akan segera berakhir di tengah perang yang masih berkobar.
Pakistan merupakan mediator dalam perang AS-Iran. MoU ini tercapai saat kedua negara berunding di Islamabad pada 17 Juni lalu.
Kesepakatan tersebut memberi AS dan Iran waktu 60 hari untuk membuat peta jalan yang mengarah ke penghentian pertempuran. Artinya, kesepakatan itu akan berakhir pada 17 Agustus.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami selalu menyadari bahwa ini akan menjadi proses yang sulit dan panjang," kata Zahid ke awak media usai acara peringatan kemerdekaan Pakistan ke-79 di Hotel Ritz Calton, Jakarta, Jumat (14/8) malam.
Zahid menegaskan, Pakistan sudah berusaha semaksimal mungkin saat hubungan dan komunikasi AS-Iran memburuk. Dia juga menyebut, upaya Islamabad telah mencapai kemajuan dengan membuat kedua negara bersedia ke meja perundingan.
"Dan karena kedua negara sudah begitu lama tidak saling berkomunikasi, menurut saya, kami telah mencapai banyak kemajuan dalam mempertemukan para negosiator dari kedua belah pihak," imbuh Zahid.
Setelah MoU ditandatangani, Iran dan AS memang sempat melanjutkan negosiasi di Swiss pada akhir Juni. Salah satu hasilnya pencairan aset Teheran yang dibekukan Washington senilai hingga S$12 miliar atau sekitar Rp214 triliun. Pencairan itu akan dilakukan dua kali dengan masing-masing US$6 miliar atau sekitar Rp107 triliun.
Selain pencairan aset, kedua negara sepakat membentuk kelompok kerja yang mencakup Pencabutan Sanksi, Urusan Nuklir, Rekonstruksi dan Pembangunan Ekonomi, serta Pemantauan dan Implementasi.
Namun, di tengah periode MoU itu, Presiden AS Donald Trump berulang kali mengancam untuk menyerang Iran lagi dan berambisi melenyapkan program nuklir Teheran yang dianggap bakal berbahaya bagi Timur Tengah serta dunia.
Nyaris dua pekan di bulan Juli, AS menggempur habis-habisan Iran, yang kemudian langsung dibalas Korps Garda Revolusi Islam (IRGC). Perang pun kembali pecah.
Trump bahkan mengisyaratkan untuk terus menyerang Iran sampai negara itu menghentikan program nuklirnya.
Tanpa ada pembicaraan diplomatik langsung atau kemajuan nyata yang diharapkan dalam waktu dekat, masa depan MoU tak tentu arah.
Meski demikian, Zahid berharap perdamaian abadi bisa terwujud di Timur Tengah.
"Kami tetap berharap dapat mewujudkan perdamaian abadi di kawasan ini" ujar Dubes Pakistan itu.
(isa/asr)


















































