CNN Indonesia
Kamis, 15 Jan 2026 20:45 WIB
Ilustrasi. Tak hanya masalah seksual, hormon testosteron yang berkurang juga bisa menyebabkan penyakit jantung. (iStock/Diy13)
Jakarta, CNN Indonesia --
Penyakit kardiovaskular (CVD) masih menjadi salah satu penyebab kematian tertinggi di dunia. Data World Health Organization (WHO) dan Global Burden of Disease mencatat, sebanyak 19,8 juta orang meninggal akibat penyakit kardiovaskular pada 2022.
Angka tersebut setara dengan sekitar 32 persen dari total kematian global, dengan 85 persen di antaranya disebabkan oleh serangan jantung dan stroke.
Selama ini, penyakit kardiovaskular kerap dikaitkan dengan gaya hidup tidak sehat, mulai dari pola makan buruk, kurang aktivitas fisik, hingga kebiasaan merokok. Namun, faktor lain yang kerap luput dari perhatian adalah perubahan hormon, khususnya pada pria.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dokter Ivonne Andriani Santoso menyebut penurunan hormon testosteron dapat menjadi salah satu pemicu penyakit kardiovaskular. Hal ini disampaikan dalam pembukaan klinik Steros Men's Health & Anti Aging Clinic.
"Testosteron tidak hanya berperan pada fungsi reproduksi, tetapi juga memengaruhi metabolisme tubuh pria," ujar Ivonne dalam keterangannya, Kamis (15/1).
Ketika kadar testosteron menurun, risiko penumpukan lemak visceral meningkat, disertai gangguan kolesterol, tekanan darah tinggi, hingga inflamasi kronis. Semua hal itu merupakan faktor yang berkaitan erat dengan penyakit jantung.
Penurunan hormon bisa dimulai sejak usia muda
Andrologist dan Seksolog Wimpie Pangkahila, menegaskan bahwa penurunan hormon tidak selalu identik dengan usia lanjut. Proses ini bahkan dapat dimulai sejak usia muda.
"Manusia menjadi tua karena hormon berkurang, bukan sebaliknya. Bukan hormon yang berkurang karena manusia menjadi tua," kata Wimpie.
Ia menjelaskan perbedaan penting antara usia kronologis yang dihitung berdasarkan tahun kelahiran dan usia fisiologis yang mencerminkan fungsi sistem organ tubuh.
Menurutnya, proses penuaan dipengaruhi oleh dua faktor besar. Faktor internal meliputi ketidakseimbangan hormon, radikal bebas, glikosis, metilasi, apoptosis, sistem imun, kerusakan DNA, dan faktor genetik. Sementara faktor eksternal berkaitan dengan pola hidup dan diet tidak sehat, kebiasaan buruk, polusi lingkungan, serta stres berkepanjangan.
Wimpie juga membagi proses penuaan ke dalam tiga fase lambat. Fase subklinis terjadi pada usia 25-35 tahun saat hormon mulai berkurang. Fase transisi berlangsung pada usia 35-45 tahun ketika kadar hormon menurun hingga sekitar 25 persen. Adapun fase klinis terjadi setelah usia 45 tahun, saat penurunan hormon semakin nyata.
Keluhan akibat rendahnya testosteron juga dikenal sebagai Testosterone Deficiency Syndrome (TDS). Pada usia lanjut, kondisi ini disebut Androgen Deficiency in Aging Male (ADAM) atau Partial Androgen Deficiency in Aging Male (PADAM), yang juga dikenal sebagai Late-Onset Hypogonadism (LOH).
"Penurunan kadar testosteron pada pria juga berdampak pada kenyamanan hidup, seperti kelelahan, depresi, kebingungan, rasa panas, hingga keringat berlebih pada malam hari," jelas Wimpie.
Menurut Wimpie, gangguan hormonal tak hanya memengaruhi kesehatan fisik, tetapi juga aspek psikologis dan sosial. Pada pria usia produktif, kondisi ini dapat mengganggu pengambilan keputusan penting dalam bisnis, pengembangan karier, hingga relasi sosial.
Bukan lagi soal strategi dan perhitungan rasional, melainkan kestabilan emosi dan mood yang sangat dipengaruhi oleh hormon.
Dokter pengampu Hormon in Balance & Anti-Aging Klinik Pratama Steros, Donny Firdaus, mengatakan pihaknya menyediakan terapi penggantian hormon bagi pria dengan testosteron rendah dan gangguan hormonal lainnya.
"Dengan pendekatan medis yang ilmiah, perawatan kami bertujuan meningkatkan energi, vitalitas, dan kualitas hidup," ujarnya.
(tis/tis)
















































