Perlukah Janji Hadiah untuk Anak yang Berpuasa? Ini Kata Psikolog

2 hours ago 2

CNN Indonesia

Minggu, 08 Feb 2026 09:20 WIB

Janji hadiah kerap digunakan orang tua untuk memotivasi anak berpuasa. Tapi, apakah itu perlu? Ilustrasi. Janji hadiah kerap digunakan orang tua untuk memotivasi anak berpuasa. (iStock/imtmphoto)

Jakarta, CNN Indonesia --

Janji hadiah kerap digunakan orang tua untuk memotivasi anak berpuasa. Mulai dari mainan, uang, hingga gawai, reward dianggap cara cepat agar anak mau bertahan tidak makan dan minum hingga waktu tertentu.

Namun, psikolog anak dan keluarga Mira Amir menilai, pemberian hadiah bukan unsur utama dalam mengajarkan anak berpuasa.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kalau ditanya penting atau tidak, jawabannya tidak penting," ujar Mira kepada CNNIndonesia.com, Kamis (5/2)

Menurutnya, orang tua yang terlalu mudah menjanjikan hadiah biasanya menginginkan hasil instan. Proses mendampingi anak secara emosional dianggap lebih sulit dibanding memberi iming-iming materi.

Mira tidak menyebut reward sebagai hal yang sepenuhnya keliru. Namun, ia mengingatkan bahwa kebiasaan ini memiliki dampak psikologis jika dilakukan terus-menerus.

Ketika puasa selalu dikaitkan dengan hadiah, anak akan terbiasa beribadah karena dorongan dari luar. Anak berpuasa bukan karena memahami maknanya, tetapi karena mengejar imbalan.

"Kalau reward-nya material, penguatnya jadi dari luar. Padahal yang baik untuk membangun kebiasaan positif itu dorongannya dari dalam," katanya.

Dalam jangka panjang, pola ini berisiko membuat anak kehilangan motivasi ketika hadiah tidak lagi diberikan. Anak bisa menolak berpuasa atau enggan beribadah jika tidak ada imbalan yang dijanjikan.

Mira mendorong orang tua untuk lebih fokus menciptakan suasana yang positif saat mengajak anak berpuasa. Anak perlu merasa dipercaya dan dihargai, bukan ditekan dengan transaksi hadiah.

Pendekatan sederhana, seperti mengakui rasa lelah anak, mengajaknya sahur dengan tenang, serta memberi pemahaman bahwa anak boleh mencoba sesuai kemampuannya, dinilai lebih efektif.

Dengan cara ini, anak belajar membangun motivasi dari dalam dirinya sendiri. Anak merasa berpuasa adalah pilihannya, bukan kewajiban yang harus 'dibayar' dengan hadiah.

Mira menegaskan, mengenalkan puasa seharusnya menjadi proses pembelajaran jangka panjang. Tujuannya bukan sekadar membuat anak kuat menahan lapar, tetapi membantu anak memahami nilai ibadah dengan cara yang sehat dan berkelanjutan.

(nga/asr)

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
| | | |