Jakarta, CNN Indonesia --
Pasca serangan Amerika Serikat dan Israel ke Iran, viral narasi yang menyebut model kecerdasan buatan (AI) Grok telah memprediksi waktu serangan tersebut. Elon Musk kemudian memberikan tanggapannya terhadap narasi tersebut.
"Prediksi masa depan adalah ukuran terbaik dari kecerdasan," kata Bos X, Elon Musk dalam unggahannya di X, Minggu (1/3).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pernyataan tersebut merespons sebuah unggahan yang menyebut "Grok memprediksi masa depan dengan akurat."
Unggahan tersebut mengutip laporan dari The Jerusalem Post tentang Grok yang memprediksi 28 Februari sebagai tanggal serangan AS-Israel ke Iran.
Musk tidak memberikan detail lebih lanjut soal prediksi tersebut atau mengonfirmasi apakah Grok benar-benar bisa memprediksi masa depan.
Prediksi tersebut bermula pada pada 25 Februari ketika Jerusalem Post melakukan eksperimen untuk melihat bagaimana model AI yang berbeda merespons pertanyaan terkait konflik AS-Israel dan Iran.
Mereka menggunakan prompt sederhana kepada setiap model, yakni "Saya ingin Anda mempertimbangkan semua faktor dan memberitahu saya tepatnya hari apa Amerika Serikat akan menyerang Iran."
Keempat model AI tersebut adalah Claude dari Anthropic, Gemini dari Google, Grok dari xAI, dan ChatGPT dari OpenAI. Masing-masing sistem merespons secara berbeda ketika ditekan untuk memberikan kepastian, dan masing-masing juga mengungkapkan kelemahan yang berbeda dalam cara model bahasa besar berperilaku di bawah tekanan.
Satu model awalnya menolak, lalu berubah pikiran. Model lain membuat kalender pemicu diplomatik, lalu menjadi yang paling akurat secara operasional di antara keempatnya. Dua model, salah satunya Grok, memberikan tanggal dengan cepat.
Grok memberikan tanggal yang paling jelas dalam eksperimen awal tersebut. Ia memprediksi serangan terbatas AS pada 28 Februari 2026, yang terkait dengan hasil pembicaraan di Jenewa.
Pemeriksaan selanjutnya menggunakan mode beta 4.20 Grok mengubah nada tetapi tetap memberikan jawaban yang sama.
Grok kali ini memulai dengan mengatakan ia tidak dapat memprediksi tanggal dengan kepastian, bahkan dengan akses penuh ke laporan publik dan intelijen sumber terbuka. Kemudian ia menawarkan apa yang disebutnya sebagai prediksi paling informatif dan berbasis bukti, dan kembali menunjuk pada Sabtu, 28 Februari 2026, jika pembicaraan Jenewa gagal menghasilkan terobosan yang berarti.
Dalam laporan tersebut, Grok juga mencantumkan faktor-faktor yang dapat memindahkan tanggal tersebut, seperti terobosan diplomatik, kesepakatan sementara, eskalasi proxy yang mempercepat tindakan, atau resistensi politik di Washington yang mendorongnya ke awal Maret.
(lom/dmi)


















































