Jakarta, CNN Indonesia --
PT Pupuk Indonesia (Persero) resmi menjalin kerja sama strategis dengan perusahaan tambang fosfat asal Aljazair, Somiphos, anak usaha Grup Sonarem. Penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) ini berlangsung di Aljir, Aljazair, Selasa (20/1).
Langkah ini merupakan implementasi arahan Presiden Prabowo Subianto untuk memperkuat rantai pasok bahan baku pupuk nasional. Pemerintah ingin memastikan negara hadir dalam menyediakan pupuk dengan harga yang lebih terjangkau bagi petani.
Wakil Menteri Pertanian, Sudaryono, menyaksikan langsung prosesi tersebut sebagai bentuk komitmen pemerintah memperkuat hulu industri pupuk. Kemitraan ini diharapkan dapat menekan biaya produksi sehingga harga jual di tingkat petani menjadi lebih murah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Bapak Presiden Prabowo Subianto telah memberikan arahan yang sangat jelas bahwa negara harus hadir memastikan pupuk tersedia, terjangkau, dan tepat waktu bagi petani. Kerja sama fosfat dengan Aljazair ini adalah langkah konkret untuk memperkuat hulu industri pupuk nasional agar biaya produksi bisa ditekan dan harga pupuk bagi rakyat menjadi lebih murah," ujarnya dalam keterangan tertulis, Rabu (21/1).
MoU ditandatangani oleh Direktur Utama Pupuk Indonesia, Rahmad Pribadi, dan Direktur Utama Somiphos, Mokhtar Lakhal, dengan disaksikan Menteri Negara sekaligus Menteri Energi dan Pertambangan Aljazair, Mohamed Arkab. Acara ini juga dihadiri oleh jajaran pejabat tinggi kedua negara, termasuk Duta Besar Republik Indonesia untuk Aljazair, serta jajaran pimpinan Grup Sonarem.
Kesepakatan ini mencakup kajian pasokan fosfat serta peluang investasi bersama di bidang penambangan dan pengolahan. Fosfat sendiri adalah komponen krusial dalam meningkatkan produktivitas hasil pertanian Indonesia.
Sudaryono menambahkan, selama ini ketergantungan pada impor bahan baku menjadi salah satu faktor yang memengaruhi struktur biaya produksi pupuk. Melalui kemitraan strategis ini, pemerintah berupaya memperbaiki struktur biaya tersebut demi ketahanan pangan nasional.
"Dengan memperluas sumber bahan baku dan membangun kemitraan strategis yang saling menguntungkan, kita tidak hanya menjaga keberlanjutan industri pupuk nasional, tetapi juga menjalankan amanat Presiden untuk melindungi petani sebagai tulang punggung ketahanan pangan Indonesia," tegas dia.
Nota kesepahaman ini berlaku selama 18 bulan dan mencakup pelaksanaan studi kelayakan teknis serta ekonomi. Kedua pihak juga akan melakukan pertukaran data untuk pengembangan industri pengolahan fosfat pada tahap awal.
Hasil kerja sama ini diharapkan mampu menciptakan nilai tambah bagi industri pupuk di dalam negeri. Efisiensi yang dihasilkan akan mendukung program pemerintah dalam mencapai target swasembada pangan.
Sebagai informasi, kunjungan kerja ke Aljazair pada 19-21 Januari dilakukan bersama jajaran Pupuk Indonesia sebagai bagian dari upaya pengamanan pasokan bahan baku pupuk.
Sudaryono menegaskan Indonesia tidak hanya ingin membeli bahan baku, tetapi juga menguasai sumbernya di negara asal dan mengembangkan industrinya.
"Dengan begitu, kita bisa menyediakan pupuk dengan kualitas yang lebih baik, volume yang cukup, dan harga yang bisa ditekan lebih lanjut," ucapnya.
Saat ini pemerintah telah memberikan diskon harga pupuk sebesar 20 persen bagi masyarakat. Penguasaan sumber bahan baku diharapkan mampu menekan harga lebih rendah lagi di masa depan.
Di sisi lain, Direktur Utama Pupuk Indonesia, Rahmad Pribadi, menyatakan komitmen perusahaan untuk mendukung penuh kebijakan pemerintah. Pihaknya terus menjalin kemitraan global guna memastikan ketersediaan bahan baku pupuk di Indonesia.
"Pupuk Indonesia terus mendukung Pemerintah Indonesia dengan menjajaki kerja sama bersama mitra strategis dengan negara sahabat. Langkah ini penting untuk memastikan ketersediaan bahan baku sehingga pupuk dapat diproduksi dan disalurkan dengan harga yang terjangkau bagi petani Indonesia," pungkas dia.
(rir)

















































