Jakarta, CNN Indonesia --
Arab Saudi dikabarkan tengah mempertimbangkan untuk menghadapi kelompok milisi Houthi Yaman, termasuk dengan meluncurkan serangan militer.
Sejumlah pejabat AS dan Timur Tengah mengatakan kepada Middle East Eye (MEE) bahwa Menteri Pertahanan Saudi Khalid bin Salman mengisyaratkan bahwa Amerika Serikat (AS) telah memberi Saudi lampu hijau untuk melancarkan serangan ofensif terhadap Houthi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kendati demikian, pemimpin Saudi belum membuat keputusan soal wacana tersebut.
Menurut seorang pejabat AS dan seorang pejabat negara Barat, diskusi mengenai rencana serangan ini mengindikasikan perbedaan pendapat di kalangan pejabat kerajaan.
Diskusi ini berlangsung di tengah eskalasi perang AS dan Iran serta saat gencatan senjata Saudi dan Houthi yang telah berlangsung selama empat tahun diuji imbas baku tembak baru-baru ini.
Pekan ini, Houthi memperburuk ketegangannya dengan Saudi dengan melancarkan serangan rudal dan drone ke Kota Abha di barat daya Saudi.
Houthi mengeklaim serangan tersebut balasan atas serangan bom di landasan pacu bandara ibu kota Sanaa, Yaman, pada 13 Juli lalu.
Menurut Houthi, Saudi yang melancarkan serangan untuk mencegah pesawat dari Iran mendarat di Sanaa. Pesawat tersebut membawa para pejabat Houthi yang menghadiri pemakaman mantan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei.
Pemerintah resmi Yaman, yang didukung Saudi, mengaku bertanggung jawab atas serangan di bandara Sanaa. Mereka beralasan serangan tersebut untuk mencegah pesawat Iran mendarat karena penerbangan itu melanggar kedaulatan Yaman.
Penerbangan ke Sanaa sendiri umumnya hanya berasal dari Amman, Yordania, dan Kairo, Mesir.
Usai diserang, Saudi merilis pernyataan bahwa mereka berhasil mencegat seluruh serangan rudal dan drone Houthi.
Pertempuran ini menjadi ketegangan baru antara Saudi dan Houthi, yang tidak cuma akan memperparah krisis kemanusiaan di Yaman, tetapi juga akan mengguncang pasar energi dan ekonomi Saudi, yang sudah menghadapi dampak perang AS vs Iran.
Sejak Iran berupaya menegaskan kendalinya atas Selat Hormuz, Laut Merah menjadi jalur utama ekspor minyak Saudi. Sekitar 4,5 juta barel minyak dikirim melalui Pipa Timur-Baratnya per hari.
Mohammed Al Basha, seorang pakar Yaman yang berbasis di AS, mengatakan kepada MEE bahwa tidak ada solusi mudah untuk masalah Yaman.
"Kesepakatan damai [dengan Houthi] akan berarti miliaran dolar dalam bentuk ganti rugi, sementara kembalinya perang memiliki peluang 50-50 bagi kemenangan Arab Saudi," katanya.
Saat Israel menyerang Gaza pada Oktober 2023, Houthi melancarkan serangan terhadap kapal-kapal di Laut Merah sebagai bentuk solidaritas dengan Palestina.
Meski tidak secara resmi terlibat dalam perang Iran, Houthi juga dipercaya bertanggung jawab atas beberapa serangan darat di Saudi.
Pemimpin Houthi, Abdul Malik al-Houthi, pada Kamis (16/7) mengancam Saudi dalam pidato yang disiarkan televisi bahwa semua fasilitas vital Riyadh akan diserang jika Houthi diserang.
"Semua fasilitas minyak Saudi dan instalasi vital akan menjadi sasaran rudal dan drone kami jika Riyadh terlibat (dalam menyerang Yaman lagi)," katanya.
"Bandara untuk bandara, pelabuhan untuk pelabuhan, dan blokade untuk blokade," lanjutnya.
(blq/bac)
Add
as a preferred source on Google


















































