Rupiah-IHSG Pisah Arah, Adakah Risiko yang Harus Diwaspadai?

2 hours ago 3

Jakarta, CNN Indonesia --

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan rupiah pisah arah beberapa waktu belakangan ini.

Di satu sisi, rupiah mengalami pelemahan terhadap dolar AS. Sementara Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) justru mencatatkan penguatan.

Pergerakan nilai tukar rupiah pada Senin (19/1) nyaris menyentuh level Rp17 ribu per dolar AS.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Berdasarkan pantauan CNNIndonesia.com, pada perdagangan Senin (19/1) pukul 14.34 WIB rupiah berada di level RP16.956 per dolar AS. Level tertinggi yang sempat disentuh terjadi pada pukul 13.44 WIB yakni di level Rp16.960 per dolar AS, melansir Bloomberg.com.

Pengamat pasar keuangan Ibrahim Assuaibi mengatakan sentimen pelemahan rupiah berasal dari dalam negeri, maupun global. Dari dalam negeri, faktor defisit anggaran RI yang nyaris menyentuh batas maksimal 3 persen, menjadi perhatian pasar keuangan.

Adapun faktor pelemahan berasal dari sentimen eksternal, diantaranya dampak perang dagang yang melibatkan Uni Eropa dan Cina, serta penerapan tarif khusus dari Amerika Serikat (AS).

Ada juga rencana Presiden AS Donal Trump untuk mencaplok Greenland, serta kondisi geopolitik di Iran.

Sementara itu, IHSG kembali mencetak rekor tertinggi sepanjang masa (all time high) di level 9.133 pada perdagangan Senin (19/1) sore.

Lantas kenapa rupiah dan IHSG bergerak berbeda?

Peneliti Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet mengatakan perbedaan arah antara rupiah dan IHSG sebenarnya bukan anomali.

IHSG mencerminkan optimisme terhadap kinerja emiten dan prospek laba, sehingga ketika investor masuk ke saham, indeks bisa menguat bahkan menembus rekor tertinggi.

Namun rupiah bergerak di pasar yang berbeda. Rupiah lebih sensitif terhadap dinamika global seperti penguatan dolar AS, ekspektasi suku bunga tinggi lebih lama, kebutuhan impor, pembayaran utang luar negeri, hingga repatriasi dividen.

"Aliran dana ke saham tidak selalu berarti permintaan rupiah yang kuat dan berkelanjutan. Pasar saham membaca cerita pertumbuhan, sementara pasar valas membaca risiko, likuiditas, dan posisi Indonesia di arus keuangan global. Karena itu, keduanya bisa tampak berjauhan," katanya pada CNNIndonesia.com, Senin (19/1).

Dalam konteks dampak ke ekonomi, sambungnya, kondisi rupiah justru lebih menentukan dibanding IHSG. Kenaikan IHSG terutama berdampak pada investor dan dunia pasar modal, sementara rupiah langsung menyentuh ekonomi riil.

Pelemahan kurs mempengaruhi harga barang impor, biaya energi dan pangan, tekanan inflasi, beban utang luar negeri, hingga ruang gerak kebijakan moneter. Sehingga jika rupiah terus tertekan, biaya usaha naik dan daya beli masyarakat berisiko melemah, meskipun pasar saham terlihat bergairah.

"Artinya, rekor IHSG tidak otomatis berarti fondasi ekonomi sedang sepenuhnya kuat apabila stabilitas nilai tukar masih rapuh," katanya.

Yusuf mengatakan dalam kondisi seperti ini, masyarakat perlu bersikap adaptif, bukan sekadar ikut euforia pasar.

Menjaga daya beli menjadi kunci dengan memprioritaskan pengeluaran penting dan mengantisipasi kenaikan harga barang berbasis impor. Dari sisi investasi, masyarakat tidak sebaiknya terpaku pada lonjakan IHSG, melainkan melakukan diversifikasi agar tidak rentan terhadap gejolak rupiah.

"Ketika saham tampak berpesta tetapi rupiah sedang tertekan, pesan utamanya adalah ekonomi belum sepenuhnya seimbang, sehingga yang dibutuhkan bukan spekulasi, melainkan manajemen risiko yang lebih matang dan rasional," katanya.

Analis Senior Indonesia Strategic and Economic Action Institution Ronny Sasmita mengatakan rupiah adalah barometer sentimen eksternal dan arus modal jangka pendek, sementara IHSG lebih merefleksikan ekspektasi laba korporasi domestik dan likuiditas dalam negeri.

Ketika rupiah melemah, penyebab utamanya biasanya tekanan eksternal seperti penguatan dolar AS global, kenaikan imbal hasil treasury, dan pengetatan likuiditas dolar. Sementara itu IHSG bisa tetap menguat karena faktor domestik yang positif.

[Gambas:Video CNN]

Misalnya fundamental emiten-emiten besar masih solid, atau sektor perbankan mencatatkan pertumbuhan kredit, atau konsumsi domestik terjaga, dan aliran dana investor lokal yang besar, dan lainya.

"Sekarang porsi investor domestik di bursa mencapai lebih dari 60 persen, sehingga pasar saham relatif 'terinsulasi' dari shock eksternal. Dalam bahasa sederhana bisa dibilang bahwa rupiah sensitif terhadap isu-isu dunia, IHSG lebih dipengaruhi oleh isu di dalam rumah sendiri," katanya.

Secara makro, sambungnya, tekanan pada rupiah memiliki dampak yang lebih luas dan cepat terhadap perekonomian dibandingkan IHSG.

Nilai tukar mempengaruhi inflasi impor, beban utang luar negeri korporasi, biaya energi, dan APBN jika subsidi meningkat. Artinya depresiasi rupiah dapat berpengaruh langsung pada harga barang di masyarakat di satu sisi dan stabilitas fiskal di sisi lain.

Adapun IHSG lebih merupakan indikator kepercayaan pasar atas prospek pertumbuhan jangka menengah. Kenaikan IHSG memang positif bagi "wealth effect" dan pendanaan korporasi, tetapi dampaknya tidak sekuat nilai tukar terhadap inflasi dan biaya impor.

Dengan kata lain, tekanan rupiah lebih berdampak ke ekonomi riil, sedangkan IHSG lebih berdampak ke sektor keuangan.

Ronny mengatakan dalam kondisi ini ada tiga hal yang dapat dilakukan publik. Pertama, tetap disiplin dalam manajemen risiko keuangan pribadi.

Kedua, diversifikasi. Untuk investor, ketidakselarasan antara IHSG dan rupiah justru membuka peluang.

Jika memegang aset dolar, jangan langsung bereaksi berlebihan. Jika berinvestasi saham, tetap fokus pada fundamental, khususnya sektor-sektor yang diuntungkan oleh pelemahan rupiah seperti komoditas dan eksportir.

"Ketiga, masyarakat perlu memperhatikan risiko inflasi ke depan. Pelemahan rupiah biasanya akan merembes ke harga pangan dan energi dalam beberapa bulan. Karena itu, perencanaan anggaran rumah tangga harus lebih konservatif dan antisipatif," katanya.

(agt)

Read Entire Article
| | | |