Siapa Pelaku Pembunuhan Saif Al Islam Putra Muammar Khadafi?

2 hours ago 1
Daftar Isi

Jakarta, CNN Indonesia --

Saif Al Islam, putra mendiang penguasa lama Libya Muammar Khadafi, tewas ditembak mati oleh geng bersenjata tidak di kenal di rumahnya di Kota Zintan.

Dipandang sebagai aktivis dan pewaris pengaruh politik sang ayah yang bertangan besi, pria 53 tahun ini sempat menjadi buronan Mahkamah Pidana Internasional (ICC) atas dugaan kejahatan terhadap kemanusiaan dan masih menjadi aktor dalam lanskap politik Libya yang bergejolak.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pembunuhan Saif pun memunculkan banyak tanda tanya, di antaranya soal siapa pelakunya.

Siapa pelaku pembunuhan Saif?

Hingga kini, hampir tidak ada informasi mengenai identitas maupun motif para penyerang.

Pengacara Saif, Marcel Ceccaldi, mengatakan kepada AFP bahwa kliennya tewas dibunuh oleh "komando beranggotakan empat orang" yang tidak dikenal, yang menyerbu rumahnya pada Selasa sore di kota Zintan, Libya barat.

Sementara itu, penasihat Saif, Abdullah Othman Abdurrahim, mengatakan kepada media Libya bahwa empat pria tak dikenal tersebut menerobos rumah Saif di siang bolong, "melumpuhkan kamera pengawas, lalu mengeksekusinya".

Berdasarkan laporan CNN, pembunuhan bahkan dilakukan empat orang bertopeng yang menerobos masuk ke rumah Saif, mematikan sistem kamera pengawas, lalu menembaknya hingga tewas.

Di kalangan publik, spekulasi merebak. Sebagian menduga keterlibatan kelompok bersenjata lokal berbasis di Zintan yang mungkin tidak lagi menginginkan kehadiran Saif di wilayah mereka.

Yang lainnya mencurigai campur tangan kekuatan asing dalam pembunuhan Saif. Sebab, pembunuhan Saif dilakukan oleh sedikit orang dengan operasi presisi di rumahnya. Padahal, keberadaan Saif selama ini tidak pernah terendus publik, kecuali orang-orang dekatnya.

Jaksa Libya pada Rabu pun menyatakan tengah menyelidiki kasus tersebut setelah memastikan bahwa "korban meninggal akibat luka tembak".

Sementara itu, milisi Brigade Tempur 444 secara tegas membantah keterlibatan dalam insiden ini.

Pembunuhan yang "janggal"

Claudia Gazzini, analis senior Libya di International Crisis Group, menyebut waktu kematian Saif sebagai sesuatu yang "janggal".

"Selama bertahun-tahun ia menjalani kehidupan yang relatif tenang, jauh dari sorotan publik," ujarnya kepada AFP.

Saif mengumumkan pencalonannya sebagai presiden pada 2021. Namun, pemilu tersebut ditunda tanpa batas waktu, dan sejak itu ia hampir tidak pernah tampil dalam kegiatan publik besar.

Keberadaannya pun sebagian besar tidak diketahui. Di luar lingkaran kecil orang-orang terdekat dan otoritas Libya, hanya sedikit yang tahu bahwa ia tinggal di Zintan.

Ceccaldi mengatakan Saif "sering berpindah-pindah", tetapi "sudah cukup lama berada di Zintan".

Sementara itu, Anas El Gomati, kepala lembaga think tank Sadeq Institute yang berbasis di Tripoli, menyebut momen kematian Saif sebagai sesuatu yang "sangat mencolok".

Kematian itu terjadi hanya "48 jam setelah pertemuan di Paris yang dimediasi AS antara Saddam Haftar dan Ibrahim Dbeibah", masing-masing putra dari tokoh militer Libya timur Khalifa Haftar dan keponakan Perdana Menteri Libya yang berbasis di Tripoli, Abdulhamid Dbeibah.

Libya hingga kini tetap terpecah antara pemerintah Tripoli yang didukung PBB dan pemerintahan tandingan di wilayah timur.

[Gambas:Video CNN]

Warisi pengaruh sang ayah

Semasa hidupnya, Saif dinilai mewarisi pengaruh politik sang ayah, Muammar Khadafi.

Saif tidak pernah memegang jabatan resmi di Libya, tetapi sejak 2000 hingga 2011 ia dianggap sebagai orang nomor dua setelah ayahnya.

Saif dianggap sebagai tokoh paling berpengaruh dan paling ditakuti di Libya setelah ayahnya, yang berkuasa sejak 1969 hingga digulingkan dan tewas oleh serangan NATO selama pemberontakan pada 2011.

Namun, para pakar berbeda pendapat mengenai sejauh mana pengaruh politik Saif meski mayoritas sepakat bahwa Saif merupakan figur paling menonjol yang masih tersisa dari era Libya pra-2011.

"Saif telah menjadi aktor yang merepotkan dalam politik Libya setelah mengumumkan pencalonannya pada 2021," kata Hasni Abidi, direktur Centre for Studies and Research on the Arab and Mediterranean World yang berbasis di Jenewa.

Menurut Abidi, pembunuhan Saif "menguntungkan semua aktor politik" yang saat ini bersaing memperebutkan kekuasaan di negara Afrika Utara tersebut.

Bagi Gomati, kematian Saif "menghilangkan satu-satunya pengganggu yang masih layak terhadap struktur kekuasaan saat ini di Libya".

"Ia bukan seorang demokrat atau reformis, tetapi ia merepresentasikan alternatif yang mengancam baik Haftar maupun Dbeibah," ujar Gomati.

"Penyingkirannya memperkuat duopoli mereka... Blok nostalgia pro-Khadafi kini tidak lagi memiliki pemimpin yang kredibel."

(rds)

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
| | | |