Studi Bongkar Dampak Negatif ke Ekosistem jika Laut Gelap Gulita

2 hours ago 4

Jakarta, CNN Indonesia --

Lautan bisa juga diselimuti kegelapan seperti langit. Kondisi gelap yang terjadi dalam periode panjang bisa memberikan dampak negatif pada ekosistem yang ada.

Para ilmuwan mengembangkan kerangka kerja untuk memahami konsep yang mereka sebut marine darkwaves atau gelombang gelap laut. Peristiwa yang diketahui terjadi sementara, tetapi berpotensi menimbulkan bencana yang dapat berdampak serius pada kehidupan laut yang bergantung pada cahaya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Cahaya merupakan faktor utama yang mendorong produktivitas laut hingga ke tingkat rantai makanan atas, namun hingga saat ini kita belum memiliki metode yang konsisten untuk mengukur penurunan cahaya bawah air yang ekstrem, dan fenomena ini bahkan belum memiliki nama," kata ilmuwan laut François Thoral dari Universitas Waikato dan Canterbury di Selandia Baru, dikutip dari Science Alert, Selasa (20/1).

"Gelombang gelap laut memungkinkan kita untuk mengidentifikasi kapan dan di mana peristiwa-peristiwa ini terjadi, memberikan wawasan baru tentang fenomena yang penting namun sering diabaikan," tambahnya.

Selama bertahun-tahun, para ilmuwan telah memantau fenomena yang disebut ocean darkening atau penurunan jangka panjang dan bertahap dalam kejernihan air yang membatasi jumlah cahaya yang dapat menembus kolom air.

Fenomena ini diketahui terkait dengan penurunan hutan rumput laut, penundaan blooming fitoplankton, terumbu karang yang tertekan, dan padang rumput laut yang menyusut.

Namun, itu adalah perubahan lambat dan bertahap yang telah berlangsung selama puluhan tahun.

Perubahan ini tidak mencakup periode kegelapan singkat, intens, dan episodik yang dipicu oleh badai, blooming alga, dan endapan sedimen, yang seringkali mengikuti peristiwa alam seperti kebakaran hutan, siklon, dan longsor.

Periode kegelapan intens pada marine darkwaves dapat sama merusaknya dengan penurunan kecerahan jangka panjang yang lambat.

Penelitian baru ini memberikan para ilmuwan alat untuk mengidentifikasi peristiwa jangka pendek ini dengan menyesuaikan kerangka kerja yang mereka gunakan untuk mendeteksi peristiwa laut episodik lainnya, seperti gelombang panas laut dan periode dingin.

Mereka menggunakan ini untuk menetapkan parameter definisi gelombang gelap laut, seperti durasi minimum, tingkat kehilangan cahaya relatif terhadap baseline musiman, dan kedalaman di mana kehilangan cahaya terjadi.

Tim tersebut kemudian menerapkan kerangka kerja tersebut pada 16 tahun data pengukuran cahaya bawah air yang sebelumnya dikumpulkan dari pantai California dan 10 tahun data dari situs pesisir Selandia Baru di Teluk Hauraki (Tikapa Moana).

Pengukuran tersebut dilakukan pada kedalaman 7 dan 20 meter. Mereka juga menerapkan kerangka kerja tersebut pada 21 tahun data penginderaan satelit cahaya dasar laut di perairan lepas pantai East Cape Selandia Baru.

Antara tahun 2002 dan 2023, terdeteksi antara 25 hingga 80 gelombang gelap laut gelap di lepas pantai East Cape, dengan durasi rata-rata antara 5 hingga 15 hari. Periode terpanjang berlangsung selama 64 hari.

Banyak peristiwa ini terkait dengan kondisi badai, termasuk Siklon Gabrielle pada tahun 2023.

Jangkar pantai di Firth of Thames, teluk di utara Selandia Baru, juga mencatat gelombang gelap lain yang terkait dengan badai. Penyebab lainnya adalah polusi tanah permukaan akibat deforestasi, aliran air dari kebakaran hutan, dan blooming plankton, serta kemungkinan pengerukan dan pekerjaan konstruksi pantai.

Dalam kasus ekstrem, pada puncak beberapa gelombang gelap, tingkat penggelapan dapat membuat hari-hari tersebut menjadi hari-hari tergelap yang pernah dialami oleh wilayah laut tersebut pada waktu tertentu dalam setahun.

Makalah ini tidak mengukur dampak langsungnya terhadap kehidupan laut, tetapi mengacu pada karya-karya sebelumnya yang menunjukkan bahwa penurunan tingkat cahaya dapat memengaruhi ekosistem secara keseluruhan, mulai dari hutan rumput laut, komunitas alga makro, hingga ubur-ubur.

"Bahkan periode singkat penurunan intensitas cahaya dapat mengganggu fotosintesis di hutan rumput laut, padang lamun, dan terumbu karang," kata Thoral.

"Peristiwa ini juga dapat memengaruhi perilaku ikan, hiu, dan mamalia laut. Jika kegelapan berlanjut, dampaknya terhadap ekosistem dapat sangat signifikan," imbuhnya.

Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengidentifikasi jenis-jenis peristiwa yang berbeda serta untuk mengukur tingkat kerusakan habitat yang dapat dikaitkan dengan peristiwa gelombang gelap laut ini.

Namun, sekarang setelah kerangka dasar telah ditetapkan, riset di masa depan memiliki dasar yang kokoh untuk dikembangkan.

(lom/dmi)

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
| | | |