CNN Indonesia
Rabu, 27 Mei 2026 18:40 WIB
Sutradara pemenang Piala Oscar, Alejandro Gonzalez Inarritu, resmi jadi sineas pertama gabung keanggotaan institusi elite Meksiko, Colegio Nacional. (AFP/Emmanuel Rosas)
Jakarta, CNN Indonesia --
Sutradara pemenang Piala Oscar, Alejandro Gonzalez Inarritu, mencetak sejarah baru setelah resmi menjadi sineas pertama yang masuk ke dalam keanggotaan institusi elite Meksiko, Colegio Nacional.
Bergabungnya sutradara berusia 62 tahun ini mempertegas pengakuan atas kontribusi seni sinematografi ke dalam lingkaran intelektual tertinggi di negara tersebut.
Sejak didirikan pada 1943 oleh dekret kepresidenan, Colegio Nacional hanya membatasi keanggotaannya maksimal untuk 40 ilmuwan, seniman, dan sastrawan terkemuka Meksiko yang masih hidup.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lembaga bergengsi ini menjadi rumah bagi figur-figur legendaris dunia seperti novelis peraih Nobel Sastra Octavio Paz, penulis kenamaan Carlos Fuentes, hingga seniman mural ikonis Diego Rivera.
Sepanjang sejarahnya, lembaga tersebut belum pernah memberikan kursi keanggotaan kepada seorang sutradara film, hingga terpilihnya Inarritu.
Inarritu, yang telah mengoleksi lima Academy Awards melalui film-film sukses seperti The Revenant dan Birdman, dinilai berhasil membawa identitas visual Meksiko ke panggung global.
Selain mahakarya tersebut, rekam jejaknya lewat trilogi kematian yang monumenta, -Amores Perros, 21 Grams, dan Babel, telah memperkokoh posisinya sebagai salah satu pelopor gelombang baru sinema bergaya realisme magis modern.
Dalam pidato pengukuhannya, Inarritu menyampaikan rasa hormat atas apresiasi yang diberikan terhadap dunia perfilman.
"Dengan memilih saya, di samping pengakuan atas karya pribadi saya, Anda sekalian juga telah mengakui sebuah keahlian dan sebuah tradisi," ujar Inarritu.
Ia juga menegaskan betapa kuatnya pengaruh budaya visual dalam membentuk jati diri bangsa Meksiko dari generasi ke generasi.
"Meksiko adalah sebuah kekuatan visual karena budaya kita selalu menggunakan citraan sebagai cara untuk menjelaskan dunia," tambahnya.
Langkah tersebut diharapkan membuka jalan bagi pengakuan yang lebih luas terhadap seni audiovisual sebagai pilar intelektual yang setara dengan sains dan sastra.
(afp/chri)
Add
as a preferred source on Google


















































