Jakarta, CNN Indonesia --
Tiap pergantian tahun, harapan baru ikut bergulir. Saat jarum jam menunjuk tengah malam, banyak orang dewasa berjanji pada diri sendiri untuk hidup lebih sehat, lebih hemat, lebih produktif, atau lebih bahagia melalui resolusi Tahun Baru.
Meski begitu, survei yang dilakukan Forbes Health/OnePoll menunjukkan, 61,7 persen responden merasa tertekan untuk membuat resolusi. Tak sedikit pula yang memasang target berlapis.
Mulai dari menurunkan berat badan, melunasi utang, menekuni hobi baru, hingga lebih sering bersosialisasi, resolusi seolah menjadi bagian tak terpisahkan dari euforia Tahun Baru. Optimisme bahwa perubahan besar bisa terjadi pun menguat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun, realitas berkata lain. Lebih dari 90 persen resolusi tahun baru ditinggalkan hanya dalam beberapa bulan pertama.
Lantas, mengapa resolusi begitu sering gagal? Berikut alasannya menurut ahli, melansir Verywell Mind.
1. Harapan akan awal baru yang 'berlebihan'
Secara logika, tujuan hidup bisa ditetapkan kapan saja. Namun, pergantian tahun punya makna psikologis tersendiri. "Tahun baru adalah momen refleksi," ujar psikolog klinis Terri Bly dari Ellie Mental Health, Amerika Serikat.
Momen ini membuat banyak orang meninjau ulang hidupnya. Mulai dari apa yang kurang, apa yang ingin diubah, dan apa yang seharusnya diperbaiki. Ritual membuat resolusi kemudian menjadi simbol komitmen untuk berubah.
Psikolog Jennifer Kowalski dari Thriveworks juga sepakat. Menurutnya, Tahun Baru selalu dianggap memberi sinyal awal yang segar. Ketika sesuatu berakhir, ada ruang untuk memulai kembali. Karena dialami bersama-sama, dorongan untuk ikut berubah pun terasa lebih kuat.
Meski sadar peluang gagal besar, manusia tetap membuat resolusi. "Sebagai manusia, kita cenderung optimistis meski ada bukti sebaliknya," kata Bly.
2. Terlalu besar, terlalu berat
Salah satu penyebab utama kegagalan resolusi adalah target yang terlalu besar. Banyak resolusi menuntut perubahan drastis, seperti mengubah pola makan total, berolahraga ekstrem, atau menguasai bahasa baru dalam waktu singkat.
"Kita sering berpikir resolusi harus berupa perubahan besar karena terdengar menarik," ujar Bly.
Padahal, manusia tidak dirancang untuk perubahan ekstrem yang instan. Kowalski menambahkan, perubahan perilaku selalu melibatkan ketidaknyamanan.
Masalahnya, resolusi sering kali langsung menempatkan seseorang pada ketidaknyamanan berkepanjangan tanpa tahapan kecil. Target memang mungkin tercapai, tetapi ada puluhan langkah kecil yang dilewatkan, sehingga tujuan terasa tidak realistis.
Alih-alih menargetkan hasil besar, psikolog menyarankan pemecahan tujuan menjadi langkah-langkah sederhana.
Belajar bahasa asing, misalnya, bisa dimulai dengan lima menit sehari mempelajari satu kata baru. Pendekatan ini lebih ramah bagi psikologi manusia dan lebih mungkin dipertahankan.
3. Lupa bertanya 'kenapa'
Kesalahan lain adalah membuat resolusi berdasarkan 'seharusnya' bukan keinginan pribadi. Menurut Bly, perubahan hanya akan terjadi jika rasa sakit karena tidak berubah lebih besar daripada rasa sakit karena berubah.
Masalahnya, banyak resolusi lahir dari tuntutan sosial atau rasa bersalah. Ketika seseorang membenci prosesnya, misalnya pergi ke gym, resolusi akan terasa seperti hukuman tanpa hadiah yang jelas.
Kuncinya adalah memahami alasan personal di balik tujuan. Mengapa ingin berolahraga? Apakah demi kesehatan, kepercayaan diri, atau kualitas hidup? Dengan memahami 'kenapa' seseorang bisa menemukan cara lain yang lebih menyenangkan dan sesuai dengan dirinya.
"Memahami apa yang benar-benar kita inginkan jauh lebih efektif daripada sekadar 'seharusnya'," kata Bly.
4. Belum siap berubah
Tak semua orang yang membuat resolusi sebenarnya siap berubah. Bly mengacu pada model Stages of Change yang menjelaskan tahapan kesiapan seseorang, mulai dari sekadar menyadari perlunya perubahan hingga mampu mempertahankannya.
Orang yang berhasil mempertahankan resolusi biasanya sudah berada pada tahap bertindak (action). Sebaliknya, resolusi yang dibuat spontan tanpa persiapan mental dan rencana matang cenderung berumur pendek.
Artinya, perubahan berkelanjutan membutuhkan waktu, perencanaan, dan kesiapan psikologis, bukan sekadar semangat sesaat di awal Januari.
(tis/tis)


















































