Trump Bikin Iran Marah usai Ancam Lanjut Bom-Mau Kuasai Selat Hormuz

2 hours ago 5

Jakarta, CNN Indonesia --

Presiden Donald Trump kembali melontarkan ancaman serangan, saat delegasi Amerika Serikat dan Iran tengah menggelar negosiasi damai di Swiss pada Minggu (21/6).

Dalam cuitannya di Truth Social, Trump mendesak Iran untuk segera menghentikan ulah proksi Hizbullah di Lebanon yang terus "menimbulkan masalah", dan menyebut AS akan menyerang Iran "dengan lebih keras lagi".

"Jika mereka tidak melakukannya, kami akan menyerang Iran dengan lebih keras lagi, seperti yang kami lakukan minggu lalu, lebih keras," tulis Trump seperti dikutip AFP.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Trump juga memperingatkan bahwa jika Iran menutup Selat Hormuz, maka warga Iran "tidak akan memiliki negara".

"Kalian (warga Iran) bahkan tidak akan bisa kembali ke negara kalian. Kami mungkin akan mengambil alih Selat itu, jika perlu," ujar Trump.

Dia juga sesumbar AS bisa menjadi "Malaikat Pelindung" Selat Hormuz dan mengambil alih 20 persen minyaknya.

"Jika mereka tidak membuat kesepakatan, kami (AS) akan memungut bea masuk," lanjutnya.

Dalam wawancara dengan Fox News, Trump menyebut Presiden Iran Masoud Pezeshkian yang bersikeras Teheran bakal mempertahankan haknya untuk memperkaya uranium, untuk "sebaiknya menjaga ucapannya.

"Dia sebaiknya memperbaiki sikapnya atau kami akan mengambil alih seluruh negara," ucap Trump.

Kata-kata Trump ini lah yang membuat Iran marah dan memilih walk out dari negosiasi damai yang tengah berlangsung di Swiss.

Ini bukan pertama kalinya Trump membuat marah Iran dan mengacaukan jalannya negosiasi yang rumit.

Ancaman terbarunya ini terjadi saat delegasi AS yang dipimpin Wakil Presiden JD Vance mengaku telah mengirim misi diplomatik untuk memulai "lembaran baru" dengan rakyat Iran.

Dilansir CNN menurut sumber yang mengetahui negosiasi damai di Hotel Burgenstock di Swiss, itu adalah "hari yang buruk untuk sebuah cuitan", karena menyebabkan Iran menarik diri dari negosiasi empat pihak dengan AS dengan Qatar dan Pakistan selaku mediator.

Tidak lama setelah ancaman Trump, kepala delegasi mereka, Mohammed Ghalibaf menulis di X, "mereka (AS) sebaiknya berhati-hati dengan kata-kata mereka. Angkatan bersenjata kami siap memberi mereka tanggapan dengan cara yang berbeda."

(dna)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
| | | |