Jakarta, CNN Indonesia --
Vinfast mempunyai strategi berbeda menghadapi serbuan merek kendaraan listrik yang masuk Indonesia. Alih-alih terjebak strategi perang harga lewat diskon besar maupun 'strategi banting harga', pabrikan asal Vietnam itu memilih fokus membangun ekosistem kendaraan listrik Tanah Air.
Chief Executive Officer VinFast Indonesia Kariyanto Hardjosoemarto menilai masuknya banyak produsen sebetulnya menguntungkan konsumen karena memberikan lebih banyak pilihan produk.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun ia menegaskan Vinfast tetap berupaya menjaga daya saing. Menurutnya, kunci bertahan di tengah persaingan bukan semata-mata pada produk atau harga, melainkan ekosistem.
"Karena kalau bicara produk, setiap brand pasti berlomba menemukan fitur baru, kemudian teknologi baru, brand A temukan teknologi baru tahun ini, tahun depan sudah ada teknologi lebih baru lagi dan seterusnya berkompetisi seperti itu," kata Karyanto dalam acara EVolution Indonesia Forum CNN Indonesia di Jakarta, Selasa (3/2).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Persaingan harga pun dinilai memiliki keterbatasan. Meski ada produsen yang menawarkan harga sangat kompetitif lewat diskon besar, strategi itu dianggap belum tentu stabil dalam jangka panjang.
"Dari sisi harga juga begitu. Mungkin ada brand yang menawarkan harga kompetitif dengan memberi diskon besar dan sebagainya, tapi menurut saya itu seberapa bisa sustain" katanya.
Atas dasar itu Vinfast memilih membangun ekosistem dari hulu ke hilir. Langkah awalnya pembangunan pabrik di Indonesia dengan cerminan komitmen jangka panjang.
Keberadaan pabrik juga memungkinkan Vinfast menghadirkan produk lebih beragam, mulai segmen entry level, menengah, hingga premium. Ke depan, portofolio produk di Indonesia juga dipastikan tidak hanya terbatas pada mobil listrik penumpang.
"Kami juga akan menghadirkan motor listrik dan kendaraan niaga. Secara produk akan semakin lengkap," katanya.
Ekosistem lainnya adalah pengembangan infrastruktur pengisian daya yang ditargetkan mencapai 30 ribu titik pada 2026.
Selain itu, lanjut Karyanto pihaknya juga menyiapkan strategi untuk menjaga nilai jual kembali kendaraan listrik melalui skema resale value garansi. Langkah ini dirasa penting karena harga jual mobil listrik bekas masih membutuhkan waktu untuk terbentuk secara alami.
"Mobil listrik sebagai teknologi baru butuh waktu 3, 4, sampai 5 tahun sampai harga mobil bekas terbentuk oleh mekanisme pasar," ujarnya.
Selama periode tersebut, Karyanto menambahkan perusahaan terus berupaya menjaga nilai jual kembali produknya. Unit bekas konsumen ia bilang dapat dialihkan untuk layanan ride hailing atau dijual kembali sebagai certified used car.
"Makanya concern kami kepada ekosistem yang lengkap," kata dia.
(ryh/fea)

















































