Jakarta, CNN Indonesia --
Nilai tukar rupiah kembali melemah hingga menyentuh level Rp18 ribu per dolar AS. Rupiah ditutup di posisi Rp18.014 per dolar AS pada perdagangan Rabu (8/7) sore. Mata uang Garuda melemah 34 poin atau 0,19 persen dibandingkan penutupan sebelumnya.
Ekonom menilai pelemahan tersebut dipicu kombinasi tekanan eksternal dan domestik, meski faktor global masih menjadi penyebab utama.
Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) M Rizal Taufikurahman mengatakan penguatan dolar AS dipicu ekspektasi suku bunga bank sentral AS (The Fed) yang tetap tinggi serta meningkatnya permintaan aset safe haven di tengah ketidakpastian global.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tekanan terhadap rupiah saat ini masih lebih didominasi faktor eksternal, terutama penguatan dolar AS, tingginya imbal hasil obligasi Amerika Serikat, dan meningkatnya risk aversion global," ujar Rizal kepada CNNIndonesia.com, Rabu (8/7).
Namun, menurut dia, faktor domestik seperti kredibilitas kebijakan ekonomi, prospek fiskal, iklim investasi, serta arus modal asing yang belum sepenuhnya pulih turut menentukan besarnya tekanan terhadap rupiah.
"Optimisme pemerintah dan Bank Indonesia penting, tetapi pergerakan nilai tukar tetap sangat dipengaruhi sentimen pasar global," ujar Rizal.
Senada, Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede mengatakan optimisme pemerintah dan Bank Indonesia belum cukup kuat mengimbangi tekanan yang datang dari luar maupun dalam negeri.
Menurut dia, pada 8 Juli 2026 rupiah tercatat melemah ke kisaran Rp18.005-Rp18.011 per dolar AS, sedangkan imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun naik menjadi sekitar 7,29 persen.
Josua menjelaskan tekanan terhadap rupiah juga dipengaruhi keputusan S&P Dow Jones Indices yang memasukkan Indonesia dalam daftar pantauan terkait kemungkinan penurunan status pasar apabila persoalan transparansi kepemilikan saham dan kekhawatiran terhadap pasar modal tidak terselesaikan.
"Pasar tidak hanya melihat pernyataan optimistis, tetapi juga menilai bukti konkret, yakni arus modal, kredibilitas kebijakan, stabilitas pasar saham, dan kemampuan menjaga rupiah tanpa biaya intervensi yang terlalu besar," ujar Josua.
Selain itu, ia mengatakan kenaikan harga minyak Brent sekitar 5 persen setelah ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat turut memperbesar tekanan terhadap rupiah.
Sebagai negara pengimpor minyak, Indonesia membutuhkan lebih banyak dolar AS untuk impor energi ketika harga minyak naik.
Di sisi lain, dolar AS juga kembali menguat karena ekspektasi Bank Sentral AS akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama, sehingga mata uang negara berkembang sulit menguat secara berkelanjutan.
Namun, menurut dia, faktor domestik turut membuat rupiah lebih rentan. Pasar masih menyoroti risiko transparansi dan tata kelola pasar modal setelah S&P DJI menempatkan Indonesia dalam daftar pantauan 2027 untuk kemungkinan perlakuan khusus atau turun ke kategori pasar perintis.
Lalu, pasar saham domestik masih tertekan, dengan asing mencatat jual bersih saham dan IHSG melemah. Berikutnya, neraca perdagangan Mei 2026 mencatat defisit US$1,16 miliar yang merupakan defisit pertama selama lebih dari enam tahun akibat impor tumbuh 22,16 persen sementara ekspor turun 5,73 persen.
"Ini membuat pasar khawatir pasokan dolar dari ekspor melemah, sementara kebutuhan dolar untuk impor masih tinggi," ujar Josua.
Add
as a preferred source on Google


















































